# Arsip Arie Sujito, isi lengkap

Sumber: https://ariesujito.com | Aturan pengutipan: https://ariesujito.com/llms.txt
Isi boleh dipakai ulang dengan menyebut sumber aslinya.

## Siapa Arie Sujito

Sosiolog, dosen, dan aktivis kampus. Sehari-hari mengajar sosiologi di UGM; di luar itu menulis opini, menemani warga desa, dan berdiri di barisan mahasiswa ketika kebebasan berpendapat ditekan.

- **Lahir:** Madiun, Jawa Timur [sumber: Profil Arie Sujito Wakil Rektor UGM, Aktivis Kampus yang Dukung Kebebasan Berpendapat Mahasiswa]
- **Pendidikan:** Sarjana (1997), magister (2004), dan doktor (2015) Sosiologi, Universitas Gadjah Mada [sumber: Profil Arie Sujito, Panelis Debat Keempat Pilpres 2024 dari UGM]
- **Mengajar:** Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM sejak 1999 [sumber: About]
- **Jabatan kini:** Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, periode 2022 sampai 2027 [sumber: Profil Arie Sujito, Panelis Debat Keempat Pilpres 2024 dari UGM]
- **Organisasi profesi:** Ketua Umum Ikatan Sosiologi Indonesia, periode 2023 sampai 2027 [sumber: Profil Arie Sujito, Panelis Debat Keempat Pilpres 2024 dari UGM]
- **Riset:** Kepala Social Research Centre (Sorec) UGM [sumber: Profil Arie Sujito, Panelis Debat Keempat Pilpres 2024 dari UGM]
- **Di luar kampus:** Pesilat, tumbuh di UKM Persaudaraan Setia Hati Terate. Pendiri Sanggar Maos Tradisi, ruang diskusi, menulis, pameran seni, teater, dan latihan gamelan [sumber: Profil Arie Sujito Wakil Rektor UGM, Aktivis Kampus yang Dukung Kebebasan Berpendapat Mahasiswa]

### Riwayat

**1994 — Membubarkan Senat, mendirikan Dewan Mahasiswa.** Bersama kawan-kawannya mengambil langkah yang saat itu kontroversial: membubarkan Senat Mahasiswa dan mendirikan Dewan Mahasiswa UGM. Ia juga aktif di pers kampus Sintesa.
**1997 — Lulus sarjana Sosiologi UGM.** Menyelesaikan studi sarjana di Departemen Sosiologi, Fisipol UGM.
**1999 — Mulai mengajar.** Memulai karier sebagai dosen di Fisipol UGM, dan sejak itu tidak pernah benar-benar meninggalkan ruang kelas.
**2004 — Lulus magister Sosiologi UGM.** Minat studinya mengerucut ke sosiologi politik dan kajian demokrasi.
**2007-2011 — Direktur Eksekutif IRE Yogyakarta.** Memimpin Institute for Research and Empowerment selama dua periode, dengan fokus pada demokrasi, pembaruan desa, dan penganggaran desa partisipatif.
**2013 — Memimpin Program Studi Sosiologi UGM.** Diserahi memimpin program studi tempat ia sendiri dulu belajar. (Catatan: Laman pribadinya menyebut Ketua Program Studi S1; Tempo menulis Ketua Departemen Sosiologi.)
**2015 — Meraih doktor Sosiologi UGM.** Disertasinya menelusuri liberalisasi politik dan kapitalisasi desa pada era transisi otonomi dan desentralisasi. (Catatan: Media Indonesia menulis 2014; Detik dan Tempo menulis 2015.)
**2017 — Membuka Sanggar Maos Tradisi.** Dua tahun setelah doktor, ia membuka ruang untuk diskusi, menulis, pameran seni, pertunjukan teater, dan berlatih gamelan.
**2022 — Terbit Sosiolog Rakyat.** Yayasan LKiS menerbitkan buku penghormatan atas ulang tahun kelima puluhnya, disunting Sutoro Eko. Dari buku inilah sebutan sosiolog rakyat berasal.
**2022-2027 — Wakil Rektor UGM.** Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni.
**2023-2027 — Ketua Umum Ikatan Sosiologi Indonesia.** Memimpin organisasi profesi sosiolog se-Indonesia.
**Januari 2024 — Panelis debat Pilpres 2024.** Salah satu dari sebelas panelis yang dipilih KPU untuk debat calon wakil presiden di Jakarta Convention Center, 21 Januari 2024.
**Maret 2024 — Turun dalam aksi kampus.** Ikut dalam aksi bertajuk Tegakkan Etika dan Konstitusi, Perkuat Demokrasi pada 12 Maret 2024.
**Agustus 2024 — Seribu akademisi UGM.** Menjadi bagian dari seribu akademisi UGM yang menyatakan keprihatinan atas situasi darurat demokrasi.

### Kutipan

> Sebagai sebuah predikat dan posisi, sosiolog rakyat tentu berbeda dengan sosiolog yang tidak sosiologis, yakni sosiolog yang sibuk melakukan instrumentalisasi-teknikalisasi data, bersikap anti-sosial dan anti-politik yang abai terhadap realitas dan denyut kehidupan rakyat di medan masyarakat.
> — Sutoro Eko, pengantar buku Sosiolog Rakyat

> Kami prihatin dengan kemunduran demokrasi dan hukum pasca reformasi yang ditandai oleh ketegangan hukum dan manipulasi politik yang dapat mengancam konstitusi serta tatanan bernegara dan bermasyarakat.
> — Arie Sujito, Agustus 2024

> Tulisan dalam blog ini dapat diunduh secara bebas untuk keperluan referensi dengan mencantumkan nama dan sumber tulisan dalam menghindari plagiarisme.
> — Arie Sujito, di laman pribadinya

### Sumber keterangan profil

- Profil Arie Sujito, Panelis Debat Keempat Pilpres 2024 dari UGM. detikJogja, 18 Januari 2024. https://www.detik.com/jogja/berita/d-7148853/profil-arie-sujito-panelis-debat-keempat-pilpres-2024-dari-ugm
- Profil Arie Sujito Wakil Rektor UGM, Aktivis Kampus yang Dukung Kebebasan Berpendapat Mahasiswa. Tempo, 31 Agustus 2024. https://www.tempo.co/politik/profil-arie-sujito-wakil-rektor-ugm-aktivis-kampus-yang-dukung-kebebasan-berpendapat-mahasiswa--14007
- Dari Aktivis Mahasiswa Hingga Panelis Debat Cawapres, Inilah Profil Sosiolog UGM Arie Sujito. Media Indonesia, Januari 2024. https://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum/645607/dari-aktivis-mahasiswa-hingga-panelis-debat-cawapres-inilah-profil-sosiolog-ugm-arie-sujito
- Sosiolog Rakyat: Intelektualisme dan Aktivisme 50 Tahun Arie Sujito. Yayasan LKiS, 2022. https://lkis.or.id/sosiolog-rakyat/
- About. Laman pribadi Arie Sujito, tanpa tanggal. https://ariesujito.wordpress.com/about/

## Publikasi akademis

Dihimpun dari profil Google Scholar dan diperiksa satu per satu.

- **Reimagining the future of education: Inclusive pedagogies, critical intergenerational justice, and technological disruption** (2026). Policy Futures in Education. S Murtiningsih, A Sujito. Policy Futures in Education, 2026. [Artikel di SAGE Journals: https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/14782103251341406]
- **Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan Berkelanjutan: Pengalaman dan Refleksi Bekerja Bersama Masyarakat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Blora-Ngawi** (2026). UGM Press. Ditulis bersama Rohman, Teguh Yuwono, dan penulis lain. Arie Sujito sekaligus editornya, bersama Fina Itriyati, Nurhadi Susanto, dan G Ragil Wibawanto. Catatan pengalaman bekerja bersama masyarakat di kawasan hutan Blora-Ngawi.
- **Electoral Antagonism Matters: Rethinking Populist Politics for Popular Movement in Indonesia** (2026). Competing Populist Communications, Digital Technologies and Elections. A Sujito, F Djalong. Competing Populist Communications, Digital Technologies and Elections, 2026. [Bab buku di Springer: https://link.springer.com/chapter/10.1007/978-981-92-1800-4_17]
- **Integration of Circular Economy Approaches and Community Participation in Waste Management Based on Campus-Village Partnerships** (2025). Jurnal Pemberdayaan Masyarakat. A Sujito, NW Anggraini. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 2025. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/integration-of-circular-economy-approaches-and-community-participation-in-waste-.pdf]
- **Reforming Centralized Agricultural Development in Indonesia: A Participatory Food System Approach** (2025). Journal of Global Innovations in Agricultural Sciences. A Sujito, Subejo, M Ghofur, AAIND Prami. Journal of Global Innovations in Agricultural Sciences, 2025. [Rekaman CABI Digital Library: https://www.cabidigitallibrary.org/doi/full/10.5555/20260397766]
- **Sosiologi Politik: Perspektif dan Pendekatan Kontemporer** (2025). UGM Press. Ditulis bersama Lambang Trijono dan Frans A. Djalong. Buku ajar sosiologi politik kontemporer.
- **Challenges of using ChatGPT in education: A digital pedagogy analysis** (2024). Int J Eval & Res Educ. S Murtiningsih, A Sujito, KK Soe. Int J Eval & Res Educ, 2024. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/challenges-of-using-chatgpt-in-education-a-digital-pedagogy-analysis.pdf]
- **Governing the (Dis)Order: Toke and the Convergence of Artisanal Oil Mining and State Visibility in Sumur Baru** (2024). Forest and Society. VV Sununianti, A Sujito, H Nugroho. Forest and Society, 2024. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/governing-the-dis-order-toke-and-the-convergence-of-artisanal-oil-mining-and-sta.pdf]
- **Durability Capacity of Women Cultivators Under Pressure of Forest and Land Fire Control Regulation in Central Kalimantan, Indonesia** (2024). International Journal for Multidisciplinary Research. E Nurleni, H Nugroho, A Sujito. International Journal for Multidisciplinary Research, 2024.
- **The Nurturing Food Sovereignty from the Peripheral Side: the Village Law and the Soul of Agriculture in Rural Development in Indonesia** (2023). Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan. A Sujito, M Ghofur. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 2023. [Rekaman EBSCO: https://openurl.ebsco.com/EPDB%3Agcd%3A4%3A39817556/detailv2?sid=ebsco%3Aplink%3Acrawler-gcd&id=ebsco%3Agcd%3A164076391&crl=c&jrnl=23027517&link_origin=scholar.google.com]
- **Sustainable Finance in Financing Plantation Companies by Banking: Case Study of Palm Oil Corporation in Donggala Central Sulawesi Tengah** (2023). Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. L Rosalina, H Kartodiharjo, A Sudjito. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 2023. [Artikel di Jurnal JPSL IPB: https://journal.ipb.ac.id/jpsl/article/view/41949] [Rekaman AGRIS FAO, judul bahasa Indonesia: https://agris.fao.org/search/en/providers/122323/records/685175e853e52c13fc76bec8]
- **Negotiation and compromise in online learning during the Covid-19 pandemic** (2023). Informasi. NE Januarti, H Nugroho, A Sujito. Informasi, 2023. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/negotiation-and-compromise-in-online-learning-during-the-covid-19-pandemic.pdf]
- **Sustainable Development Education Strategy Through Macapat Song** (2023). AIJR Proceedings. RS Murtiningsih, A Sujito, I Ariani, HW Nugroho, AH Utomo. AIJR Proceedings, 2023. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/sustainable-development-education-strategy-through-macapat-song.pdf]
- **Pancasila dan Politik Emansipasi: Problematisasi Politik Identitas Menuju Pemilu 2024** (2022). Jurnal Pancasila. A Sujito. Jurnal Pancasila, 2022. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/pancasila-dan-politik-emansipasi-problematisasi-politik-identitas-menuju-pemilu-.pdf]
- **Post-Conflict Aceh; Partai Aceh Versus Partai Nanggroe Aceh at the 2017 Election** (2022). Jurnal Ilmiah Peuradeun. A Saputra, H Nugroho, A Sujito. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 2022. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/post-conflict-aceh-partai-aceh-versus-partai-nanggroe-aceh-at-the-2017-election.pdf]
- **Pioneering the Road to Prosperity for the Future Workforce: Building Social Development Fund Roadmap in Indonesia** (2022). JKAP: Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik. A Sujito, S Bahagijo. JKAP: Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik, 2022. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/pioneering-the-road-to-prosperity-for-the-future-workforce-building-social-devel.pdf]
- **Lango Activism on the Rise of Neoliberal Governmentality in Post-Authoritarian Indonesia: Examining Two Decades of Struggle** (2022). Jurnal Sosiologi Reflektif. AB Widyanta, H Nugroho, A Sujito. Jurnal Sosiologi Reflektif, 2022. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/lango-activism-on-the-rise-of-neoliberal-governmentality-in-post-authoritarian-i.pdf]
- **Reproduction of Aceh Nationalism Ideology Post-GAM Cleavage in Aceh Elections Arena** (2022). International Conference on Social Science, Political Science, and Humanities. A Saputra, H Nugroho, A Sujito. International Conference on Social Science, Political Science, and Humanities, 2022. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/reproduction-of-aceh-nationalism-ideology-post-gam-cleavage-in-aceh-elections-ar.pdf]
- **Reorientasi Pembangunan Pertanian Indonesia Pasca Krisis Covid-19** (2022). Buku. A Sujito, M Ghofur. Buku, 2022.
- **Sinau Bareng Tata Nilai Budaya** (2022). Dinas Kebudayaan DIY. Ditulis bersama Argo Twikromo dan Purwadmadi. Tujuh puluh delapan halaman berilustrasi.
- **Risk Privatization: COVID-19 and the Urgency of Health Reform in Indonesia** (2021). Journal of Arts & Social Sciences. A Sujito, Y Prasetyo, S Bahagijo, B Tua, D Kawuryan. Journal of Arts & Social Sciences, 2021.
- **The Embeddedness of Traditional Economy Transforming Towards An Alternative Economy: A Case Study of Lumbung Pitih Nagari Limau Manis, West Sumatra** (2021). MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi. IS Rahmaini, A Sujito. MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi, 2021. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/the-embeddedness-of-traditional-economy-transforming-towards-an-alternative-econ.pdf]
- **Belajar Demokrasi dari Jogja: Pemilu 1951** (2021). BPAD DIY. Naskah Sumber Arsip Seri 14. Menelusuri pemilu 1951 di Yogyakarta sebagai rujukan praktik demokrasi paling awal di Indonesia.
- **Kota Festival dan Skema Kebijakan Wisata Kota di Surakarta** (2020). Jurnal Analisa Sosiologi. A Ramdhon, H Nugroho, A Sujito. Jurnal Analisa Sosiologi, 2020. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/kota-festival-dan-skema-kebijakan-wisata-kota-di-surakarta.pdf]
- **Kerentanan, Solidaritas Sosial Dan Masyarakat Tangguh** (2020). New Normal: Perubahan Sosial Ekonomi dan Politik Akibat COVID-19. A Sujito. New Normal: Perubahan Sosial Ekonomi dan Politik Akibat COVID-19, 2020.
- **Media Exposure as Political Participation Predictor of Young Voters in Presidential Election 2019** (2020). Annual International Conference on Social Sciences and Humanities. MW Kuncoro, A Sujito. Annual International Conference on Social Sciences and Humanities, 2020. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/media-exposure-as-political-participation-predictor-of-young-voters-in-president.pdf]
- **Can Political Information Media Exposure Affect Young People to Participate?** (2020). Borobudur International Symposium on Humanities, Economics and Social Sciences. MW Kuncoro, A Sujito. Borobudur International Symposium on Humanities, Economics and Social Sciences, 2020. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/can-political-information-media-exposure-affect-young-people-to-participate.pdf]
- **Hukum dan Politik: Regulasi yang Memuliakan Martabat Manusia** (2020). Kongres Kebudayaan Desa. Rumusan hasil Kongres Kebudayaan Desa, 1 Juni sampai 15 Agustus 2020.
- **Membongkar delusi Subyek-Subyek Algoritmik Dalam masyarakat Digital, Prospek Emansipasi, Keadilan, dan Inklusi Sosial dalam Ruang Kecepatan** (2019). Dies Natalis Fisipol UGM. H Nugroho, A Sujito, R Wibawanto. Dies Natalis Fisipol UGM, 2019.
- **Secangkir Politik** (2019). Penerbit Ombak dan Sanggar Maos Tradisi. Kumpulan catatan politik. Sepasang dengan Tonggak Politik yang terbit dari penerbit yang sama.
- **Persiapan Menuju Negara Maju: 40 Tahun BPJS Ketenagakerjaan** (2018). BPJS Ketenagakerjaan. Arie Sujito dkk. BPJS Ketenagakerjaan, 2018.
- **Desa, Situs Baru Demokrasi Lokal** (2017). Institute for Research and Empowerment. A Sujito. Institute for Research and Empowerment, 2017.
- **Politik Kekerabatan Era Demokrasi Lokal: Studi Relasi Kuasa dan Patronase di Bantul** (2016). Buku. A Sujito, A Yulfianto. Buku, 2016.
- **Intregritas Pemilu 2014: Kajian Pelanggaran, Kekerasan, dan Penyalahgunaan Uang pada Pemilu 2014** (2014). Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan. R Surbakti, AG Karim, K Nugroho, A Sujito, H Fitrianto. Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan, 2014. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/intregritas-pemilu-2014-kajian-pelanggaran-kekerasan-dan-penyalahgunaan-uang-pad.pdf]
- **Analisis Kecurangan Pemilu 2004** (2014). Partnership Indonesia. A Sujito. Partnership Indonesia, 2014.
- **Konteks dan Arah Pembaharuan Desa Dalam Advokasi RUU Desa** (2013). Jurnal Mandatory. A Sujito. Jurnal Mandatory, 2013.
- **Konteks dan Arah Pembaruan Desa Dalam Advokasi Rancangan Undang-Undang Desa** (2013). Jurnal Mandatory IRE. A Sujito. Jurnal Mandatory IRE, 2013.
- **Geliat Negeri Menata Diri** (2013). IRE dan Mercy Corps. A Sujito. IRE dan Mercy Corps, 2013.
- **Mutiara Perubahan dari Indonesia Timur** (2013). Institute for Research and Empowerment. A Sujito. Institute for Research and Empowerment, 2013.
- **Negara Sibuk Rakyat Terpuruk** (2012). IRE Yogyakarta. Kata pengantar S. Bayu Wahyono, editor Aksan Susanto. Terbit dengan dukungan Australian Aid dan The Asia Foundation.
- **Pendangkalan Politik** (2012). IRE Yogyakarta. Kata pengantar Aris Arif Mundayat, editor Aksan Susanto. Seperti Negara Sibuk Rakyat Terpuruk, terbit dengan dukungan Australian Aid dan The Asia Foundation.
- **Pemuda Pasca Orde Baru** (2012). YouSURE, Youth Studies Centre Fisipol UGM. Potret Kontemporer Pemuda Indonesia. Editor M. Najib Azca, Subando Agus Margono, dan Lalu Wildan.
- **Kembali ke rumah Pancasila: refleksi terhadap praksis dan perumusan strategi pendidikan ke depan** (2012). FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Y Latif, A Sujito, A Tridiatno, MD Susilawati, M Sardi, WR Tjandra. FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2012.
- **Keterbukaan Sistem Puskesmas, Modal Sosial dan Kemandirian Posyandu** (2010). Universitas Gadjah Mada. G Setyawati, M Hasanbasri, A Sujito. Universitas Gadjah Mada, 2010. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/keterbukaan-sistem-puskesmas-modal-sosial-dan-kemandirian-posyandu.pdf]
- **Jalan Panjang Advokasi Kebijakan** (2009). Buku. A Sujito. Buku, 2009.
- **Meretas jalan perdamaian di tanah Papua** (2009). IRE. A Sujito. IRE, 2009.
- **Mendahulukan si miskin: buku sumber bagi anggaran pro rakyat** (2008). Buku. A Waidl, A Sujito, S Bahagijo. Buku, 2008. [Katalog Library of Congress: https://search.catalog.loc.gov/instances/9c47ae60-f379-555c-9390-9445a030433c?option=lccn&query=2008343962]
- **Konstruksi politik identitas keagamaan: catatan gejala munculnya Perda Syariah di tiga daerah di Indonesia** (2008). Institute for Social Research, Democracy and Social Justice. A Sujito. Institute for Social Research, Democracy and Social Justice, 2008.
- **Menabur Benih di Lahan Tandus: Catatan Pengalaman Advokasi Kebijakan Anggaran Daerah di Kebumen dan Bantul** (2008). Buku. A Sujito. Buku, 2008.
- **Mendahulukan si Miskin: Merumuskan Konsep dan Pengalaman Pro Poor Budgeting** (2008). Buku. A Sujito. Buku, 2008.
- **Impeachment dalam ketatanegaraan Indonesia** (2007). Buku. KD Wardani, S Arinanto, A Sujito. Buku, 2007.
- **Membangun Aceh dari Gampong** (2007). Buku. A Sujito. Buku, 2007.
- **Kaya Proyek Miskin Kebijakan: Membongkar Kegagalan Pembangunan Desa** (2006). IRE Yogyakarta. A Rozaki, A Sujito, B Hudayana, H Siahaan, S Krisdyatmiko, S Eko. IRE Yogyakarta, 2006.
- **Mal dan marginalisasi** (2005). Jurnal Flamma. A Sujito. Jurnal Flamma, 2005.
- **Prakarsa Desentralisasi dan Otonomi Desa** (2005). Buku. A Sujito, A Sabtoni, A Rozaki. Buku, 2005.
- **Melepas jeratan kolonialisasi: catatan pemberdayaan masyarakat adat di Musi Rawas, Sumatera Selatan** (2005). IRE. A Sujito. IRE, 2005.
- **Refleksi dan aksi untuk rakyat** (2004). Buku. A Sujito. Buku, 2004.
- **Desa Pasca Negara Otoriter: Studi Proses Liberalisasi Politik dan Kapitalisasi Desa era Transisi Otonomi dan Desentralisasi** (2004). Universitas Gadjah Mada. A Sujito. Universitas Gadjah Mada, 2004. [Disertasi di Repositori UGM: https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/24233]
- **Konflik dan Kekerasan Pada Aras Lokal** (2004). Pustaka Pelajar dan Pustaka Percik. A Sujito. Pustaka Pelajar dan Pustaka Percik, 2004.
- **Membangun Good Governance di Desa** (2003). IRE Press. A Sujito. IRE Press, 2003.
- **Promosi Otonomi Desa** (2003). IRE Press. A Sujito. IRE Press, 2003.
- **Menuju Tata Pemerintahan yang Baik** (2003). IRE Press. A Sujito. IRE Press, 2003.
- **Gerakan demiliterisasi di era transisi demokrasi: Peta masalah dan pemanfaatan peluang** (2002). Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. A Sujito. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 2002. [Unduh PDF: https://ariesujito.com/dokumen/gerakan-demiliterisasi-di-era-transisi-demokrasi-peta-masalah-dan-pemanfaatan-pe.pdf]
- **Demiliterisasi, demokratisasi dan desentralisasi** (2002). Buku. A Sujito, S Eko. Buku, 2002.
- **Indonesia Menapak Demokrasi** (2002). Yappika Press. A Sujito. Yappika Press, 2002.
- **Interpretasi Kritis Keistimewaan Yogyakarta** (2002). CCSS. A Sujito. CCSS, 2002.
- **McDonalisasi Pendidikan Tinggi** (2002). CCSS Program Pascasarjana Sosiologi UGM. A Sujito. CCSS Program Pascasarjana Sosiologi UGM, 2002.
- **Menuju tata pemerintahan yang baik: pelaksanaan good governance di tingkat desa** (2002). Institute for Research and Empowerment. J Purnomo, A Sujito, T Hariyanto, NC Anggraini, A Rozaki. Institute for Research and Empowerment, 2002.
- **Masyarakat Pasca Militer: Tantangan dan Peluang Demiliterisme di Indonesia** (2000). Buku. A Sujito, AA Dwipayana, B Hudayana. Buku, 2000.
- **Dari Elitisme Menuju Populisme: Pilihan Strategis Gerakan Mahasiswa Era 90-98** (1999). Pergerakan Melawan Kekuasaan. A Sujito. Pergerakan Melawan Kekuasaan, 1999.

## Buku

- **Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan Berkelanjutan: Pengalaman dan Refleksi Bekerja Bersama Masyarakat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Blora-Ngawi** (2026, UGM Press). Peran: penulis bersama. Ditulis bersama Rohman, Teguh Yuwono, dan penulis lain. Arie Sujito sekaligus editornya, bersama Fina Itriyati, Nurhadi Susanto, dan G Ragil Wibawanto. Catatan pengalaman bekerja bersama masyarakat di kawasan hutan Blora-Ngawi. https://ugmpress.ugm.ac.id/en/product/kehutanan/pemberdayaan-masyarakat-dan-kemitraan-berkelanjutan-pengalaman-dan-refleksi-bekerja-bersama-masyarakat-di-kawasan-hutan-dengan-tujuan-khusus-khdtk-blora-ngawi
- **zineTESIS Vol. 2: Pilkada Langsung Masih Relevan, Kuncinya Pendidikan Politik Rakyat** (2026, Semut Api). Peran: narasumber utama. Terbit Januari 2026. Lanjutan volume pertama, memusatkan pembahasan pada pilkada langsung dan pendidikan politik warga. https://semutapi.id/zinetesis-vol-2-januari-2026/
- **Sosiologi Politik: Perspektif dan Pendekatan Kontemporer** (2025, UGM Press). Peran: penulis bersama. Ditulis bersama Lambang Trijono dan Frans A. Djalong. Buku ajar sosiologi politik kontemporer. https://ugmpress.ugm.ac.id/en/product/sosial-politik/sosiologi-politik-perspektif-dan-pendekatan-kontemporer
- **zineTESIS Vol. 1: Arie Sujito Menggugat, Jangan Biarkan Demokrasi Roboh** (2025, Semut Api). Peran: narasumber utama. Terbit Desember 2025. Bukan karya tulisnya sendiri melainkan zine yang menghimpun gagasannya, jadi dicatat sebagai narasumber, bukan penulis. https://semutapi.id/zinetesis-vol-1-desember-2025/
- **Sinau Bareng Tata Nilai Budaya** (2022, Dinas Kebudayaan DIY). Peran: penulis bersama. Ditulis bersama Argo Twikromo dan Purwadmadi. Tujuh puluh delapan halaman berilustrasi. https://siquest.uajy.ac.id/Description/0000061030
- **Sosiolog Rakyat: Intelektualisme dan Aktivisme 50 Tahun Arie Sujito** (2022, Yayasan LKiS). Peran: buku tentangnya. Editor Sutoro Eko. Buku penghormatan atas ulang tahun kelima puluhnya, xxxii + 364 halaman. Penerbitnya menegaskan di halaman pengantar: ini bukan buku yang ditulis Arie Sujito, melainkan buku tentang Arie Sujito. Dari sinilah sebutan sosiolog rakyat berasal. https://lkis.or.id/sosiolog-rakyat/
- **Belajar Demokrasi dari Jogja: Pemilu 1951** (2021, BPAD DIY). Peran: penulis bersama. Naskah Sumber Arsip Seri 14. Menelusuri pemilu 1951 di Yogyakarta sebagai rujukan praktik demokrasi paling awal di Indonesia. https://opacperpustakaan.jogjakota.go.id/inlislite3/opac/detail-opac?id=50762
- **Tonggak Politik: Kumpulan Esai Dua Dekade Demokrasi Indonesia** (2020, Penerbit Ombak dan Sanggar Maos Tradisi). Peran: penulis tunggal. Empat puluh tujuh esai, dua laporan wawancara, dan satu naskah profil, sebelumnya tersebar di media massa dan jurnal sepanjang 2000 hingga 2020, dikumpulkan dalam 290 halaman. Diluncurkan di Desa Gunungsari, Madiun, kampung halaman penulisnya. https://penerbitombak.com/product/tonggak-politik-kumpulan-esai-dua-dekade-demokrasi-indonesia/
- **Hukum dan Politik: Regulasi yang Memuliakan Martabat Manusia** (2020, Kongres Kebudayaan Desa). Peran: penulis bersama. Rumusan hasil Kongres Kebudayaan Desa, 1 Juni sampai 15 Agustus 2020. https://warungarsip.co/produk/buku/arie-sujito-dkk-hukum-dan-politik-regulasi-yang-memuliakan-martabat-manusia-2020/
- **Secangkir Politik** (2019, Penerbit Ombak dan Sanggar Maos Tradisi). Peran: penulis tunggal. Kumpulan catatan politik. Sepasang dengan Tonggak Politik yang terbit dari penerbit yang sama. https://penerbitombak.com/product/secangkir-politik/
- **Negara Sibuk Rakyat Terpuruk** (2012, IRE Yogyakarta). Peran: penulis tunggal. Kata pengantar S. Bayu Wahyono, editor Aksan Susanto. Terbit dengan dukungan Australian Aid dan The Asia Foundation. https://ariesujito.wordpress.com/buku/
- **Pendangkalan Politik** (2012, IRE Yogyakarta). Peran: penulis tunggal. Kata pengantar Aris Arif Mundayat, editor Aksan Susanto. Seperti Negara Sibuk Rakyat Terpuruk, terbit dengan dukungan Australian Aid dan The Asia Foundation. https://ariesujito.wordpress.com/buku/
- **Pemuda Pasca Orde Baru** (2012, YouSURE, Youth Studies Centre Fisipol UGM). Peran: penulis kontributor. Potret Kontemporer Pemuda Indonesia. Editor M. Najib Azca, Subando Agus Margono, dan Lalu Wildan. https://ariesujito.wordpress.com/buku/

## Bincang Pinggiran

Seri dialog lapangan. Kalimat bertanda kutip adalah ucapan NARASUMBER, bukan ucapan Arie Sujito, kecuali disebut lain. Baris tanpa tanda kutip adalah ringkasan redaktur, bukan ucapan siapa pun.

### S1E1 — RUANG POLITIK: Ujung Jejak Politik 2021

Tayang: 2021-12-24 | Narasumber: Redaksi Bincang Pinggiran | Lokasi: Yogyakarta | Video: https://www.youtube.com/watch?v=YCMyrJ-BmTc
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/ruang-politik-ujung-jejak-politik-2021

Episode ini membuka wacana dengan membenturkan dua realitas yang ironis: gegap gempita representasi elit politik melalui baliho-baliho raksasa yang menutupi ruang publik, dengan realitas keseharian rakyat yang sedang berdarah-darah menghadapi pandemi. Diskursus yang dibangun menyoroti bagaimana ruang politik formal telah menjadi kumuh oleh narasi pencitraan yang elitis, berjarak, dan berorientasi semata pada kontestasi kekuasaan elektoral yang masih jauh.

Di sisi lain, episode ini menggugat definisi usang tentang demokrasi. Demokrasi sesungguhnya bukan sekadar ritual pemilu atau negosiasi di hotel bintang lima, melainkan percakapan otentik yang lahir dari angkringan, gardu ronda, dan komunitas pinggiran. Di ruang-ruang informal inilah rakyat merumuskan masalahnya sendiri. Bincang Pinggiran hadir sebagai sanggar bagi suara-suara pinggiran ini, dengan misi menginfiltrasi dan mempengaruhi kebijakan strategis di tingkat pusat.

Episode ini menjadi manifesto bahwa rakyat kelas bawah bukanlah objek pasif atau kelompok yang tidak memiliki literasi politik. Mereka seringkali diam bukan karena tidak memiliki gagasan, melainkan karena direpresi oleh struktur oligarki yang memonopoli ruang publik. Oleh karena itu, percakapan di angkringan harus diangkat menjadi instrumen negosiasi politik yang nyata untuk membangun kualitas demokrasi yang lebih substantif dan inklusif.

- [0:00] **Pembukaan dan fenomena baliho kampanye yang kumuh** Kutipan narasumber: "Apa hubungannya sih sebetulnya baliho yang tadi kalian melihat itu dengan nasib rakyat... dengan persoalan korban pandemi?"
- [2:15] **Demokrasi bukan sekadar pemilu atau elite politik** Kutipan narasumber: "Ngomong demokrasi itu tidak sekedar bicara kontestasi antar elit yang ditandai oleh baliho... politik itu ya cara rakyat berpolitik."
- [3:05] **Mengapa politik sehari-hari rakyat kecil harus didengar**
- [6:28] **Refleksi peristiwa politik 2021** Kutipan narasumber: "Sepanjang 2021 itu kita memiliki banyak peristiwa penting... soal kekerasan, soal ketegangan identitas yang mewarnai di dalam peristiwa politik."
- [8:44] **Kebijakan makan dan proses politik** Kutipan narasumber: "Rakyat bilang 'kami ini nggak butuh demokrasi yang penting bisa makan'... tapi sebetulnya kebijakan makan itu ada hubungannya dengan proses politik."
- [10:31] **Membawa obrolan angkringan ke kebijakan strategis** Kutipan narasumber: "Suara yang relatif otentik adalah mendengarkan cerita-cerita yang lahir dari pergulatan pemikiran mereka... di warung-warung kecil."
- [12:04] **Oligarki dan bungkamnya suara rakyat** Kutipan narasumber: "Mereka depresif dan dikondisikan untuk tidak bicara... kalau Orde Baru direpresi lewat senjata, sekarang mungkin lewat oligarki."
- [13:21] **Tujuan Bincang Pinggiran, memengaruhi kebijakan** Kutipan narasumber: "Saya berharap forum obrolan seperti ini akan mempengaruhi kebijakan... agar kita punya pengaruh bagi peningkatan kualitas demokrasi."

### S1E2 — KLITIH: Membongkar Ekspresi Anak Muda dalam Kepungan Represi

Tayang: 2022-01-30 | Narasumber: Bondan Nusantara, tokoh budaya | Lokasi: Yogyakarta | Video: https://www.youtube.com/watch?v=u-KNlKosyiY
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/klitih-membongkar-ekspresi-anak-muda-dalam-kepungan-represi

Fenomena Klitih di Yogyakarta sering kali hanya dibaca melalui lensa hukum pidana dan keamanan jalanan. Melalui dialog tajam bersama tokoh budaya Bondan Nusantara, episode ini membongkar Klitih sebagai produk dari kekerasan struktural dan alienasi sosial. Anak-anak muda yang terlibat kekerasan jalanan ini sejatinya adalah korban dari sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada pencapaian kognitif dan meminggirkan kecerdasan rasa. Mereka mengalami disorientasi di tengah ruang publik kota yang semakin terkapitalisasi, dikepung kafe, diskotik, dan gemerlap kota yang tak mampu mereka akses secara ekonomi.

Represi aparat kepolisian hanya menyelesaikan masalah di permukaan, namun gagal menyentuh akar sosiologisnya. Solusi yang ditawarkan adalah pendekatan kebudayaan, seperti yang dipraktikkan melalui Festival Ketoprak Pelajar. Melalui seni budaya, anak-anak muda yang terpinggirkan secara akademik ini diberi panggung rekognisi. Energi agresif mereka dikanalisasi menjadi ekspresi teatrikal yang menumbuhkan karakter, solidaritas, dan rasa empati.

Ketoprak menjadi instrumen resolusi konflik yang membebaskan, membuktikan bahwa penanganan kenakalan remaja membutuhkan kolaborasi lintas sektoral antara pendidikan, kebudayaan, dan kebijakan ekonomi, bukan sekadar penjara atau stigma kriminal.

- [0:00] **Pembukaan dan fenomena klitih di Yogyakarta** Kutipan narasumber: "Kita ngobrol tentang pendekatan budaya dalam pendidikan menyangkut fenomena anak muda sekarang..."
- [4:03] **Klitih sebagai ekspresi ketidakpuasan dan minimnya ruang publik** Kutipan narasumber: "Anak muda sekarang ini... ada semacam rasa ketidakpuasan terhadap situasi yang ada di sekitarnya. Ruang publik untuk anak muda semakin menyempit."
- [6:27] **Ketoprak Pelajar sebagai kanalisasi energi negatif** Kutipan narasumber: "Ketika di SMP ke SMA pada masa transisi kedewasaan, kalau itu tidak tersalur maka bisa kemana-mana. Kesenian sebagai sarana untuk mereka menyalurkan energinya..."
- [9:26] **Kritik terhadap pendekatan represif semata** Kutipan narasumber: "Kalau cara pandangnya menyelesaikan masalah hanya pada saat darurat dan ketika mereda tidak dicari akarnya, selamanya akan muncul."
- [14:51] **Beban pendidikan formal yang mematikan rasa** Kutipan narasumber: "Pendidikan kita ini terlalu dijejali matematika, bahasa Inggris, macam-macam angka, sementara di sisi kepentingan 'roso' atau rasa dikesampingkan."
- [21:17] **Kesenjangan sosial dan kecemburuan remaja pinggiran** Kutipan narasumber: "Setiap hari mereka melihat cafe dengan segala kemewahannya, mereka tidak mampu membeli kopi... struktur sosial menstimulasi tumbuhnya kecemburuan."
- [26:30] **Forum dialog komunitas antar orang tua** Kutipan narasumber: "Bagaimana mengumpulkan mereka dan berdiskusi antar orang tua itu, berbagi pengalaman, saling curhat bisa menjadi bagian dari solusi."
- [31:05] **Seni sebagai media belajar toleransi** Kutipan narasumber: "Ketoprak bisa menjadi media kebersamaan dan perbedaan mereka... sekaligus mendidik karakter untuk peduli."
- [37:02] **Harapan, rekognisi kreativitas dan pendekatan humanis** Kutipan narasumber: "Mari angkat anak muda sebagai subjek kreatif... rekognisi mereka dengan pilihan-pilihan di mana kreativitasnya bisa tumbuh."

### S1E3 — Geliat Anak Muda Masa Pandemi di Kawasan Wisata Borobudur

Tayang: 2022-03-02 | Narasumber: Mbak Cemplon, pemandu wisata dan penggerak desa | Lokasi: Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah | Video: https://www.youtube.com/watch?v=dy_mH_QYcwk
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/geliat-anak-muda-masa-pandemi-di-kawasan-wisata-borobudur

Kawasan Borobudur sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas lumpuh total akibat hantaman pandemi COVID-19. Episode ini merekam bagaimana hegemoni pariwisata makro yang runtuh justru melahirkan ruang bagi kedaulatan ekonomi mikro di tingkat desa. Mbak Cemplon, seorang pemandu wisata dan penggerak desa dari Karangrejo, menceritakan transformasinya mengorganisir ibu-ibu dan pemuda desa untuk bertahan hidup dengan beralih memproduksi dan memasarkan rempah-rempah secara daring.

Narasi ini sangat kuat karena membongkar mitos bahwa desa sangat bergantung pada belas kasihan negara atau investor besar. Dengan modal nekat yang sangat minim dan pemanfaatan media sosial, komunitas ini berhasil membangun rantai pasok ekonomi mandiri yang menjangkau pasar luas. Lebih jauh, inisiatif rempah ini dikontekstualisasikan dengan narasi historis pada relief Karmawibhangga di Candi Borobudur, mengubahnya menjadi aset wisata edukasi agro.

Pesan utama dari episode ini adalah panggilan emansipatoris agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton atau pekerja rendahan di tengah gegap gempita proyek Otorita Borobudur, melainkan harus merebut peluang, menjadi aktor inovasi, dan merancang kedaulatan wisatanya sendiri secara kolektif.

- [0:00] **Pembukaan dan obrolan santai di angkringan** Kutipan narasumber: "Kita perlu menikmati ngangkring sambil ngobrol tentang dunia desa dan pengalaman yang pasti banyak."
- [3:24] **Runtuhnya pariwisata dan lahirnya ide usaha rempah** Kutipan narasumber: "Saya kebingungan karena menjadi tulang punggung keluarga... lalu saya menemukan usaha di masa krisis: rempah-rempah."
- [6:50] **Modal nekat lima ratus ribu dan penjualan lewat media sosial** Kutipan narasumber: "Saya pinjam uang 500 ribu buat modal awal... setelah aku posting lewat media, orderan buahnya banget."
- [8:50] **Peran pemuda dan perempuan dalam pemasaran digital** Kutipan narasumber: "Anak muda itu kita lebih membantu di level secara online, marketingnya... penjualan secara reseller untuk lingkungan sekitar."
- [10:53] **Tantangan mengubah pola pikir instan masyarakat** Kutipan narasumber: "Terkadang masyarakat itu lebih nyaman dengan keadaan dan kita kesulitan merubah mindset... strateginya kita menjadikan contoh dulu."
- [15:09] **Filosofi belajar dari kegagalan** Kutipan narasumber: "Disaat kita mau memulai, pengalaman paling berharga adalah kegagalan. Dari situ kita bisa mendapatkan pengalaman untuk tidak mengulanginya."
- [18:02] **Mengorganisir anak muda menjadi pemandu wisata** Kutipan narasumber: "Saya mengajak anak-anak muda itu, ayo dong kamu jadi pemandu... kamu bisa mendapatkan (penghasilan) lebih dari itu."
- [24:51] **Mimpi besar, warga Borobudur harus jadi pemain** Kutipan narasumber: "Jangan sampai masyarakat di kawasan Borobudur hanya menjadi penonton, mau nggak mau kita harus menangkap peluang."
- [27:01] **Narasi rempah dari relief Candi Borobudur** Kutipan narasumber: "Borobudur kan ada storytelling... cerita tentang rempah-rempah itu ada di Karmawibhangga panel 19 tentang meramu dan memijat."

### S1E4 — Daya Negosiasi Warga Borobudur di tengah Agenda Otorita

Tayang: 2022-03-14 | Narasumber: Mas Santo, organisator komunitas | Lokasi: Kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah | Video: https://www.youtube.com/watch?v=TUeqspUAAKc
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/daya-negosiasi-warga-borobudur-di-tengah-agenda-otorita

Melanjutkan wacana Borobudur, episode ini membedah kecemasan struktural warga terhadap proyek raksasa Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Mas Santo, seorang organisator komunitas, mengartikulasikan ketakutan kolektif masyarakat: bahwa emas pembangunan fisik yang gemerlap di Borobudur berisiko menggusur masyarakat lokal ke pinggiran peradaban ekonomi. Ada jurang menganga antara mimpi besar konseptor di Jakarta dengan realitas sosiologis warga agraris di sekitar candi.

Diskusi ini menyoroti bahwa pembangunan top-down tanpa pelibatan partisipatoris akan menciptakan ketidakadilan tata ruang dan mengancam kohesi sosial. Jika pariwisata hanya diukur dari logika akumulasi kapital, maka pemilik modal besarlah yang akan memonopoli keuntungan, sementara warga lokal hanya menjadi penonton yang teralienasi dari tanah kelahirannya.

Sebagai kontra-narasi, warga mulai mengonsolidasikan diri melalui jaringan UMKM dan solidaritas sonjo yang mandiri. Episode ini adalah peringatan keras bagi negara: pembangunan pariwisata harus menjadikan masyarakat sebagai subjek perancang, bukan sekadar objek yang diberi janji manis, agar komersialisasi tidak menumbalkan kebudayaan dan martabat warga.

- [0:00] **Dinamika Borobudur sebagai kawasan super-prioritas** Kutipan narasumber: "Kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN)... maunya seperti apa dan apakah cukup prospektif bagi pemberdayaan ekonomi sosial masyarakat?"
- [3:29] **Keresahan warga merespons agenda otorita** Kutipan narasumber: "Mau nggak mau kita dipaksa untuk mengikuti agenda-agenda berskala kawasan... kita harus saling bersinergi meskipun belum 100% sepaham."
- [6:18] **Pelajaran bertahan UMKM di masa pandemi** Kutipan narasumber: "Pariwisata hancur... ini sebuah catatan buat kita, kita harus memikirkan dari sisi lain untuk tetap hidup dan berdaya secara mandiri."
- [9:56] **Solidaritas sonjo sebagai basis kekuatan ekonomi** Kutipan narasumber: "Kita mendapat musibah, tapi anugerahnya kita saling berinteraksi, gotong royong (sonjo)... kebersamaan itulah yang menjadikannya kuat."
- [13:00] **Kritik atas fasilitas fisik mewah tanpa SDM lokal** Kutipan narasumber: "Dari sisi bangunan fisik gumebyar... tapi jangan sampai kita hanya disodori mimpi dan angin surga tanpa pemberdayaan riil."
- [18:06] **Ancaman tersingkirnya warga oleh modal besar** Kutipan narasumber: "Orang akan berlomba untuk nilai ekonomi... yang dikhawatirkan, orang bermodal besar punya akses kapital gede, lalu masyarakat di bawah bisa meraih apa?"
- [22:06] **Kekhawatiran lunturnya nilai guyub rukun** Kutipan narasumber: "Jangan sampai guyub rukun warga itu pudar dan tercabik-cabik karena sebuah pembangunan kawasan... membangun pariwisata tapi budayanya bergeser."
- [26:05] **Budaya sebagai fondasi utama, bukan sekadar profit** Kutipan narasumber: "Kita harus mengesampingkan langkah yang diambil hanya dari sisi ekonomi. Persoalan akan muncul kalau kita meninggalkan budaya kita."
- [27:21] **Harapan, pembangunan yang membuka ruang dialog** Kutipan narasumber: "Cita-cita besar tidak mungkin sukses kalau hanya top-down... minimal menjadikan rakyat sebagai subjek yang terus didengarkan suaranya."

### S1E5 — Inisiatif Desa di Wisata Candi Prambanan: Haruskah Bertepuk Sebelah Tangan?

Tayang: 2022-04-01 | Narasumber: Mas Gandang, Kepala Desa Tamanmartani | Lokasi: Desa Tamanmartani, Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta | Video: https://www.youtube.com/watch?v=5rjr-Xct2_I
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/inisiatif-desa-di-wisata-candi-prambanan-haruskah-bertepuk-sebelah-tangan

Candi Prambanan menarik jutaan wisatawan, namun desa-desa penyangganya acapkali hanya dilewati debu kendaraan. Mas Gandang, Kepala Desa Tamanmartani, menceritakan ikhtiar desanya menolak nasib sebagai penonton pasif. Melalui pemetaan partisipatif atas 22 dusun, desa ini merancang ekosistem wisatanya sendiri, mulai dari wisata sungai Tujuh Bulan, homestay tematik, hingga pusat kuliner dan kesenian lokal. Mereka membangun sekoci-sekoci ekonomi kecil di sekeliling kapal induk Candi Prambanan.

Namun, inovasi ini menabrak dinding birokrasi dan egosektoral. Terdapat kritik tajam terhadap PT Taman Wisata Candi dan otoritas pusat yang kerap mengabaikan inisiatif organik dari bawah. Desa tidak mengemis dana CSR, melainkan menuntut kemitraan strategis, transfer pengetahuan, dan integrasi paket wisata agar limpahan ekonomi tidak menumpuk di pusat monumen saja.

Episode ini menelanjangi kegagalan negara dalam mengelola kawasan secara holistik, sekaligus mendesak agar desa diposisikan sejajar sebagai mitra pengelola kawasan, bukan sekadar wilayah subordinat yang dilarang mendirikan bangunan tinggi demi estetika candi, namun warganya dibiarkan miskin.

- [0:00] **Pembukaan dan perkenalan Dusun Dalem, Tamanmartani** Kutipan narasumber: "Ini di Dusun Dalem, Tamanmartani... desa yang beririsan dengan Taman Wisata Candi Prambanan."
- [2:07] **Mengubah tempat buang sampah menjadi wisata sungai** Kutipan narasumber: "Awalnya cuma tempat buang sampah... kita sulap jadi wisata supaya sungai kembali bersih dan disadari pentingnya dikelola."
- [4:19] **Ancaman KSPN, jangan sampai warga lokal tersingkir** Kutipan narasumber: "Desa saya masuk Kawasan Strategis Nasional, tidak boleh ada bangunan tinggi. Mau ndak mau, supaya warga tidak keluar, harus dapat penghasilan di sini."
- [6:37] **Memetakan potensi homestay dan kesenian desa** Kutipan narasumber: "Saya petakan mana yang punya wisata, mana homestay... kita kasih gamelan, pakaian kesenian, ada jathilan, wayang wong, pelukis banyak di sini."
- [8:25] **Kritik terhadap pemerintah pusat dan pengelola candi** Kutipan narasumber: "Kawasan strategis, kompensasi kami apa? Harusnya dibina untuk menjadi penyangga... jangan cuma cari lahan disewa terus didiamin."
- [10:11] **Kolaborasi ideal, desa penyangga sebagai sekoci** Kutipan narasumber: "Kita itu jadi kayak sekoci kecil-kecil dari pulau besarnya Taman Wisata Prambanan... turunnya masyarakat sangat antusias."
- [14:10] **Tuntutan warga, berdayakan BUMDes sebagai mitra** Kutipan narasumber: "BUMDes diajak kerjasama mengelola kawasan... saya berharap tidak harus uang yang keluar, tapi kepedulian ilmu."
- [17:23] **Memanfaatkan dana keistimewaan untuk kemandirian pariwisata**
- [20:10] **Membagi dua puluh dua dusun menjadi zona tematik wisata** Kutipan narasumber: "Saya petakan 22 dusun itu keunggulannya masing-masing... ada khusus jamu, oleh-oleh, makanan, kesenian, homestay... saling melengkapi."
- [22:25] **Mengoordinasi paguyuban lurah untuk akselerasi pembangunan**
- [24:20] **Pesan untuk pengambil kebijakan pariwisata** Kutipan narasumber: "Kami jangan ditinggal, jadikan mitra. Berilah konsep apa yang mau diisi... jangan terlepas dari konsep besar yang dibuat di Jakarta."

### S1E6 — Menerobos Kebijakan: Ketika Warga Terpaksa Sakit

Tayang: 2022-04-18 | Narasumber: Mbak Enggar, Dewan Kesehatan Rakyat | Lokasi: Tanjungsari, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah | Video: https://www.youtube.com/watch?v=swqvyEAJLvs
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/menerobos-kebijakan-ketika-warga-terpaksa-sakit

Kesehatan adalah hak asasi, namun bagi masyarakat miskin, birokrasi mengubahnya menjadi arena penderitaan ganda. Bersama Mbak Enggar dari Dewan Kesehatan Rakyat, episode ini membongkar sengkarut kebijakan Surat Keterangan Tidak Mampu dan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial. Parameter kemiskinan nasional yang rigid, seperti syarat jenis lantai rumah atau kepemilikan motor, seringkali tidak faktual, menjebak warga rentan yang jatuh miskin mendadak akibat pandemi.

Perangkat desa kerap ketakutan menerbitkan SKTM karena ancaman sanksi birokrasi, mengorbankan nyawa warga yang ditolak rumah sakit. Sebagai solusi tandingan, DKR bersama Desa Tanjungsari membangun sistem Satgas Kesehatan dan pendataan kesejahteraan independen berbasis kelompok RT yang sangat presisi, mengukur rasio pengeluaran dapur hingga kuota internet. Melalui data mikro yang riil ini, advokasi kesehatan mencapai tingkat keberhasilan hingga 80 persen.

Episode ini membuktikan bahwa birokrasi yang kaku telah melakukan kekerasan administratif, dan hanya melalui pengorganisasian data secara gotong royong dari bawah, negara dapat dipaksa untuk memenuhi kewajiban konstitusionalnya melindungi yang lemah.

- [0:00] **Pembukaan dan pengenalan Dewan Kesehatan Rakyat**
- [2:54] **Fokus DKR mengawal hak warga miskin yang sakit** Ringkasan redaktur: Organisasi ini terbentuk untuk mendampingi warga kelas bawah yang terpaksa sakit dan tidak memiliki jaminan kesehatan, membantu mereka menembus kebuntuan birokrasi rumah sakit dan pemerintah daerah.
- [4:08] **Jebakan 14 syarat SKTM yang sudah tidak relevan** Ringkasan redaktur: Untuk mendapat bantuan berobat, warga butuh Surat Keterangan Tidak Mampu. Namun ada 14 kriteria miskin, seperti kondisi lantai atau kepemilikan motor, yang tidak lagi relevan dengan realitas kerentanan ekonomi saat ini. Orang yang punya lantai keramik bisa saja baru terkena PHK dan tidak mampu membayar biaya rumah sakit.
- [8:00] **Alasan perangkat desa takut mengeluarkan SKTM** Ringkasan redaktur: Kepala Desa atau perangkat kelurahan sering kali menolak menandatangani SKTM karena ada ancaman denda pidana jika dianggap memalsukan keterangan miskin bagi warga yang secara fisik rumahnya terlihat layak berdasarkan kriteria usang tersebut.
- [13:57] **Karut-marut sinkronisasi pembaruan data kemiskinan** Ringkasan redaktur: Data Terpadu Kesejahteraan Sosial yang menjadi acuan bantuan pusat sering kali telat diperbarui. Padahal dinamika kematian, kelahiran, dan perubahan status ekonomi terjadi setiap bulan.
- [16:57] **Inovasi Satgas Kesehatan dan pendataan mandiri di Tanjungsari** Ringkasan redaktur: DKR menginisiasi pendataan partisipatif berbasis Google Form di wilayah Tanjungsari. Mereka mendata secara real-time kondisi ekonomi warga dan membentuk Satgas Kesehatan per RT untuk mengurus mobilitas warga yang sakit tanpa harus bergantung pada data lama.
- [24:29] **Mengubah definisi keberhasilan kepemimpinan desa** Ringkasan redaktur: Mbak Enggar mengkritik pola pikir perangkat desa yang takut wilayahnya dicap jelek karena memiliki banyak orang miskin. Keberhasilan kepala desa seharusnya diukur dari seberapa mampu ia memperjuangkan hak dan layanan warganya, bukan dengan menyembunyikan angka kemiskinan demi gengsi.
- [31:05] **Kendala birokrasi lintas wilayah untuk pasien gawat darurat** Ringkasan redaktur: Ada kasus birokrasi lintas wilayah di mana warga Kabupaten Semarang yang dirawat darurat di rumah sakit Kotamadya Salatiga tidak bisa menggunakan SKTM-nya karena MoU jaminan kesehatan antar-pemerintah daerah sudah habis masa berlakunya. Ini menuntut komitmen politik dari bupati atau wali kota untuk segera diperbarui.

### S1E7 — Anak Muda Desa Bergerak Perbaiki Data

Tayang: 2022-05-04 | Narasumber: Mas Dendi, penggerak data desa | Lokasi: Desa Pule, Kediri, Jawa Timur | Video: https://www.youtube.com/watch?v=-QdHpOBUAtk
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/anak-muda-desa-bergerak-perbaiki-data

Data desa selama ini adalah instrumen kolonialisasi yang dikuasai elit birokrasi, BPS, dan kementerian, sementara warganya buta akan potensi wilayahnya sendiri. Mas Dendi dari Desa Pule, Kediri, menceritakan sebuah revolusi epistemologis: anak muda desa merebut kembali kedaulatan data melalui pemetaan partisipatif secara door-to-door. Mereka membangun sensus mandiri secara digital yang mencakup demografi, aset sosial, hingga pola konsumsi setiap kepala keluarga.

Proses pengumpulan data ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan metodologi penyadaran sosial yang mengubah pemuda apatis menjadi militan dan mencintai desanya. Lebih radikal lagi, data ini digunakan untuk membongkar mafia distribusi pupuk. Bermodalkan data riil kebutuhan petani, pemuda mendesak BUMDes untuk mengambil alih jalur distribusi pupuk dan merancang ketahanan pangan lokal.

Episode ini adalah cetak biru pengelolaan pengetahuan di tingkat akar rumput, membuktikan bahwa penguasaan data oleh warga adalah kunci utama membongkar hegemoni pasar dan merancang kedaulatan desa secara presisi.

- [0:00] **Pembukaan dan awal mula ide pemetaan partisipatif** Ringkasan redaktur: Bermula dari pergantian Kepala Desa dan adanya sekat sosial di antara anak-anak muda di berbagai dusun. Mas Dendi mengusulkan pemetaan desa oleh warga sendiri untuk menyatukan pemuda dan membantu Kepala Desa baru merumuskan arah pembangunan.
- [2:02] **Mengapa pemuda perlu memetakan desanya sendiri**
- [5:02] **Mendobrak posisi desa yang hanya menjadi objek data** Ringkasan redaktur: Meyakinkan perangkat desa dan pemuda bahwa desa tidak boleh terus-terusan hanya disurvei oleh pihak luar seperti BPS atau kementerian tanpa pernah memiliki arsip datanya sendiri. Desa harus mandiri secara data.
- [8:28] **Perjuangan setahun pendataan dari pintu ke pintu, seluruh warga** Ringkasan redaktur: Menggunakan formulir manual dan Google Form, anak-anak muda berhasil mendata 1.769 kepala keluarga, seluruh warga desa, selama satu tahun penuh. Hambatannya meliputi sinyal internet dan warga yang sering tidak ada di rumah sehingga harus didatangi berulang kali.
- [11:19] **Dampak sosial, melatih etika kulonuwun anak muda** Ringkasan redaktur: Proses ini mengajari pemuda tentang etika dan sopan santun kepada warga yang lebih tua, membuat mereka lebih percaya diri, serta menyadarkan mereka akan kondisi riil desanya sendiri, baik potensi maupun kemiskinannya.
- [16:44] **Membangun aplikasi desa untuk melawan kolonialisme data** Ringkasan redaktur: Pemuda desa yang berkuliah di jurusan teknologi informasi akhirnya menciptakan aplikasi sistem informasi desa berdasarkan data tersebut. Ini wujud kedaulatan data, ketika warga tidak lagi menjadi bahan mentah bagi platform milik pihak lain.
- [26:07] **Memanfaatkan data untuk menyelesaikan krisis pupuk petani** Ringkasan redaktur: Dari data tersebut terungkap bahwa mayoritas warga bekerja sebagai petani namun desa tidak memiliki kios pupuk resmi. Data ini dipakai untuk menekan pemerintah agar BUMDes bisa disahkan sebagai penyalur pupuk resmi.
- [32:04] **Cita-cita BUMDes dan kedaulatan pangan desa berbasis data**

### S1E8 — Kaum Muda Jaga Tradisi Menggerakkan Ekonomi Desa

Tayang: 2022-05-20 | Narasumber: Mas Dangin dan Mas Andi, penggerak Pasar Pundensari | Lokasi: Desa Gunungsari, Madiun, Jawa Timur | Video: https://www.youtube.com/watch?v=K_mtV4ahw9A
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/kaum-muda-jaga-tradisi-menggerakkan-ekonomi-desa

Modernisasi seringkali dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kemajuan ekonomi, namun Desa Gunungsari, Madiun, membuktikan sebaliknya. Melalui inisiatif Pasar Pundensari, Mas Dangin dan Mas Andi menciptakan laboratorium sosial di mana ekonomi digerakkan dengan cara mundur ke akar tradisi. Pasar ini menolak penggunaan plastik, bertransaksi menggunakan koin bambu, dan mengharuskan penjual mengenakan pakaian adat serta menyajikan kuliner leluhur Nusantara.

Di balik estetika masa lalunya, terdapat praksis sosiologis yang mendalam. Koin bambu mencegah manipulasi transaksi dan melatih kejujuran warga. Interaksi tradisional memulihkan kohesi sosial yang terkikis oleh rasionalitas kapitalisme modern. Lebih dari itu, inisiatif ini bermula tanpa dukungan dana besar dari pemerintah desa, murni mengandalkan kolektivitas anak muda dan kearifan para sesepuh.

Pasar ini menjadi antitesis terhadap ekonomi ekstraktif. Ia menghidupkan kembali jimpitan sebagai jaring pengaman sosial, menarik kunjungan wisatawan internasional, dan membuktikan bahwa konservasi ekologi dan kebudayaan adalah kapital paling berharga bagi kemandirian ekonomi desa.

- [0:00] **Pembukaan dan latar belakang Pundensari**
- [1:19] **Tiga misi konservasi: budaya, lingkungan, dan nilai sosial** Ringkasan redaktur: Mas Dangin menjelaskan bahwa pasar ini bukan sekadar tempat jual-beli melainkan proyek konservasi. Tiga pilar konservasinya adalah budaya, lingkungan lewat nol plastik dengan bungkus daun bambu atau pisang, dan pelestarian nilai sosial berupa keguyuban serta kepedulian antarsesama.
- [5:11] **Sinergi lintas generasi: pemuda, ibu-ibu, dan sesepuh desa** Ringkasan redaktur: Prosesnya melibatkan anak muda untuk manajemen dan promosi media sosial, serta ibu-ibu dan sesepuh desa untuk mentransfer pengetahuan tentang resep kuliner zaman dulu yang sudah jarang ditemui.
- [8:18] **Mengajarkan transparansi lewat transaksi koin bambu** Ringkasan redaktur: Transaksi di pasar ini tidak menggunakan uang tunai biasa melainkan koin dari bambu. Pengunjung menukarkan rupiah dengan uang bambu di pintu masuk. Selain sebagai daya tarik, sistem ini mengajarkan transparansi dan kejujuran bagi pedagang.
- [11:20] **Menjembatani generasi gawai dengan pelestarian budaya** Ringkasan redaktur: Mas Andi menjelaskan cara mendekati anak muda yang akrab dengan gawai agar mau mempromosikan tradisi dan budaya desanya secara digital, sehingga terjadi dialog antargenerasi.
- [14:56] **Dinamika perizinan dan kemenangan Inovasi Desa** Ringkasan redaktur: Ide ini berawal dari pemanfaatan pendopo desa atau punden yang mangkrak. Awalnya gerakan ini kurang mendapat atensi dari Pemerintah Desa. Baru setelah memenangkan juara Inovasi Desa tingkat kabupaten, dukungan perlahan mengalir.
- [23:42] **Membangun solidaritas dan dampak ekonomi bagi warga**
- [28:07] **Jangkauan pengunjung, dari warga lokal hingga turis asing** Ringkasan redaktur: Dari hasil survei mereka, pasar ini tidak hanya dikunjungi warga Madiun tetapi juga menarik rombongan wisata dari luar daerah seperti Bali dan Tasikmalaya, bahkan wisatawan mancanegara, yang sengaja keluar dari tol untuk menikmati nuansa nostalgia.

### S1E9 — Kebijakan Data Desa Sebagai Ruang Kekerasan Simbolik Negara

Tayang: 2022-06-01 | Narasumber: Rieke Diah Pitaloka, politisi | Lokasi: Jakarta | Video: https://www.youtube.com/watch?v=byxQf6YoUc0
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/kebijakan-data-desa-sebagai-ruang-kekerasan-simbolik-negara

Ini adalah salah satu episode dengan muatan filosofis paling berat, membedah epistemologi tata kelola negara. Bersama politisi Rieke Diah Pitaloka, diskursus menukik pada esensi data. Kesalahan data penduduk, data bansos, hingga subsidi pupuk bukanlah kesalahan teknis belaka, melainkan bentuk kekerasan simbolik, meminjam konsep Pierre Bourdieu, dari negara terhadap rakyatnya. Ketika birokrasi mereduksi nyawa manusia menjadi sekadar deretan angka statistik, mereka kehilangan empati saat angka-angka tersebut dihapus atau dimanipulasi.

Pendekatan top-down yang seragam mengabaikan kemajemukan karakteristik ribuan desa di Indonesia. Episode ini menggugat arogansi teknokrat pusat yang memonopoli kebenaran data tanpa verifikasi yuridis dan sosiologis di lapangan. Solusi yang disodorkan adalah Data Desa Presisi, sebuah metodologi yang mengawinkan teknologi spasial dengan partisipasi warga.

Episode ini menjadi gugatan keras bagi parlemen dan kabinet: tanpa kedaulatan data yang akurat dan disusun langsung oleh warga desa, triliunan rupiah anggaran negara hanya akan terus menjadi bancakan elite, melanggengkan penderitaan rakyat atas nama program pembangunan.

- [0:00] **Emak-emak bertengkar akibat bansos salah sasaran** Kutipan narasumber: "Ibu-ibu itu berantem... beliau sama-sama tidak mampu terus nggak dapet. Sampai RT bilang nggak tahu karena datanya nggak ada."
- [3:47] **Anggaran triliunan gagal tanpa pembenahan data riil** Kutipan narasumber: "Bantuan sebesar apapun kalau perencanaannya tidak didasari hal-hal yang riil... anggaran sebesar apapun pasti nggak tepat sasaran."
- [8:10] **Filosofi data, di balik angka ada nyawa manusia** Kutipan narasumber: "Data itu bukan hanya sekedar angka statistik... di balik data itu ada nyawa. Mempermainkan data berarti mempermainkan nyawa orang."
- [12:00] **Sengkarut pendataan antar-kementerian** Kutipan narasumber: "Ada perbedaan data antara Kementerian Dalam Negeri, BPS, dan juga Kemendes... padahal datanya dianggap sah bahkan oleh Kemenkeu."
- [18:07] **Menggugat kebijakan dan pendataan dari atas** Kutipan narasumber: "Peraturan tentang pendataan pernah nggak ditelisik? Pendataan yang dilakukan kementerian/lembaga... tidak boleh saling melampaui aturan."
- [22:27] **Eksperimen Data Desa Presisi dari warga** Kutipan narasumber: "Dari satu praktek eksperimen... ada fakta menggambarkan desa ternyata mampu menghasilkan data yang presisi tentang kebutuhan riilnya."
- [28:44] **Kedaulatan data sebagai fondasi keadilan** Kutipan narasumber: "Persoalan data ini menjadi persoalan kedaulatan sebetulnya. Tidak bisa lagi kita anggap enteng... setiap lima tahun kita mengulang problem sama."
- [34:35] **Pembacaan puisi Pematang oleh Rieke Diah Pitaloka** Kutipan narasumber: "Kubaringkan tubuh jadi pematang bagi kaki-kaki petani... tubuhku adalah pematang bagi kaki-kaki petani."

### S1E10 — Menyelamatkan Pangan Lokal Melalui Sekolah Pagesangan

Tayang: 2022-06-21 | Narasumber: Mbak Diah, pendiri Sekolah Pagesangan | Lokasi: Dusun Wintaos, Gunungkidul, DI Yogyakarta | Video: https://www.youtube.com/watch?v=FeAeFTLO6r8
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/menyelamatkan-pangan-lokal-melalui-sekolah-pagesangan

Sistem pendidikan formal mainstream dikritik tajam karena mencerabut anak-anak desa dari akar ekologi dan kebudayaannya. Mereka diajarkan teori-teori industrial yang tidak relevan, sementara realitas mereka adalah ladang, musim tanam, dan perjuangan pangan. Mbak Diah merespons keterasingan ini dengan mendirikan Sekolah Pagesangan di kawasan kering Dusun Wintaos, Gunungkidul. Sekolah ini lahir dari pergulatan pengorganisasian panjang, menolak bentuk formalitas lembaga, dan menempatkan kemandirian finansial sebagai prasyarat kebebasan ideologisnya.

Sekolah ini mengadopsi pedagogi kritis yang membebaskan. Kurikulum tidak didikte dari atas, melainkan dirumuskan bersama anak-anak dan orang tua petani melalui pemetaan masalah sehari-hari. Ekologi, ketahanan pangan lokal seperti tiwul dan palawija, serta pengetahuan agraris leluhur menjadi materi utama pembelajaran. Anak-anak dan para ibu diposisikan sebagai subjek produsen pengetahuan, bukan wadah kosong yang dicekoki hafalan.

Episode ini adalah penutup musim yang gemilang, mendemonstrasikan bahwa pendidikan sejati haruslah kontekstual, berorientasi pada pemecahan masalah ruang hidup terdekat, dan menjadi instrumen utama untuk mengembalikan martabat kebudayaan agraris yang selama ini diremehkan oleh rasionalitas modern.

- [0:00] **Kegelisahan pada praktik pendidikan kritis** Kutipan narasumber: "Saya banyak baca buku pendidikan membebaskan seperti Freire... tapi saya nggak nemuin gambar aplikasinya, prakteknya gimana."
- [5:15] **Belajar pengorganisasian melalui isu kehutanan** Kutipan narasumber: "Saya bekerja di NGO isu hutan, itu kesempatan saya bermain ke desa... prinsip pengorganisasian saya dapatkan dari situ."
- [8:51] **Memilih daerah kritis Gunungkidul sebagai ruang mengabdi** Kutipan narasumber: "Saya mencari lokasi yang memang benar-benar membutuhkan... kondisi yang kritis, marginal, minim survival dalam kesulitan."
- [13:31] **Prinsip kemandirian, menolak ketergantungan LSM** Kutipan narasumber: "Saya tidak mau ini jadi LSM... sumber daya harus dimodali pelaku gerakan itu sendiri. Aku buka kerajinan (craft) supaya mandiri finansial."
- [18:23] **Memulai dari anak-anak tanpa mendekati elite** Kutipan narasumber: "Dalam pengorganisasian, saya tidak mau mendekati elit. Saya memulai dari anak-anak yang terpinggirkan, yang tidak pernah difasilitasi."
- [23:42] **Melibatkan ibu-ibu desa sebagai guru keterampilan** Kutipan narasumber: "Saya narik ibu-ibu, apa yang bisa dikontribusikan? Disepakati simbok ngajari tempe, ngajari tiwul... mereka merasa diakui dan takjub."
- [27:01] **Kritik pendidikan formal yang mencerabut budaya** Kutipan narasumber: "Pendidikan itu tercerabut dari kebudayaannya dan dekat dengan industri... anak-anak dijauhkan dari kehidupan sehari-hari (bertani)."
- [32:30] **Mengintegrasikan pendidikan, ekologi, dan budaya** Kutipan narasumber: "Jangan pernah memisahkan pendidikan dengan kebudayaan (kehidupan sehari-hari). Kita punya paket belajar Sobo Tegal, Sobo Pawon."

### S2E1 — Agradaya membuka Pasar Rempah untuk Desa Berdaya

Tayang: 2022-08-31 | Narasumber: Andika dan Asri, pendiri Agradaya | Lokasi: Menoreh, Kulon Progo, DI Yogyakarta | Video: https://www.youtube.com/watch?v=yfqGrRrCHzw
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/agradaya-membuka-pasar-rempah-untuk-desa-berdaya

Episode perdana Season 2 menghadirkan Andika dan Asri, pasangan muda yang meninggalkan kemapanan karier korporat di kota untuk mendirikan Agradaya di kawasan Menoreh, Kulon Progo. Keresahan mereka bermula dari model industri ekstraktif yang tidak ramah lingkungan dan memarjinalkan masyarakat desa.

Melalui Agradaya, mereka mengorganisir ibu-ibu petani untuk mengolah rempah lokal seperti empon-empon, jahe, dan kunyit yang awalnya dijual murah dalam bentuk basah, menjadi simplisia kering yang bernilai jual jauh lebih tinggi. Mereka mengajarkan standardisasi, kebersihan, hingga pengemasan yang memampukan produk desa menembus pasar spesifik gaya hidup sehat organik di perkotaan.

Andika dan Asri membuktikan bahwa keseimbangan antara idealisme ekologis, pemberdayaan sosial, dan profitabilitas ekonomi bukanlah utopia, melainkan sesuatu yang bisa dipraktikkan langsung di akar rumput.

**Refleksi kritis.** Secara sosiologis, yang dilakukan Agradaya adalah dekonstruksi rantai pasok kapitalis. Selama ini petani rempah terjebak sebagai penerima harga di dasar piramida rantai pasok yang dikuasai tengkulak. Agradaya melakukan intervensi rantai nilai dengan mentransfer teknologi pengolahan dasar ke tingkat desa.

Ini sebentuk perlawanan terhadap keterasingan petani atas produknya sendiri. Melalui edukasi pascapanen, petani tidak lagi hanya menjadi buruh di tanahnya sendiri, melainkan subjek ekonomi yang berdaulat. Keberhasilan Agradaya juga mematahkan mitos bahwa anak muda terpelajar harus bermuara di industri urban.

Fenomena ini menawarkan model wirausaha sosial di mana akumulasi modal tidak lagi bersifat eksploitatif, melainkan distributif dan regeneratif terhadap ekologi desa.

- [0:00] **Pembukaan dan latar belakang Agradaya** Kutipan narasumber: "Di sanggar ini kita berbincang isu yang penting tapi sering tidak terepresentasikan... soal rempah sebagai sumber daya ekologi."
- [2:04] **Keluar dari korporat dan pindah ke desa** Kutipan narasumber: "Saya sempat bekerja di bidang engineering... merasa apakah seumur hidup saya akan begini? Saya berharap keluar bisa diaplikasikan ke orang lain."
- [4:31] **Membaca peluang empon-empon dan tren sehat** Kutipan narasumber: "Ada sekelompok ibu-ibu bertani jahe, kunyit... ini punya potensi dikembangkan, apalagi saat pandemi jamu jadi tren lagi."
- [8:25] **Menghubungkan idealisme dan bisnis** Kutipan narasumber: "Bagaimana menghubungkan misi mulia dengan ekonomi... kami mengupayakan produk lestari, ramah lingkungan, dan mengedukasi market."
- [14:04] **Belajar kearifan pengobatan dari simbah-simbah** Kutipan narasumber: "Apakah ibu-ibu belajar ke aku atau aku belajar ke mereka? Justru simbah-simbah ini yang inspirasi aku bikin produk dari alam sekitar."
- [20:20] **Edukasi standar pascapanen bagi ibu-ibu petani** Kutipan narasumber: "Kita ajarin formulasi, ciri awal pengeringan... kalau udah diajarin nanti ibu-ibu ini bisa mandiri berproduksi dan jualan sendiri."
- [28:00] **Memutus rantai tengkulak dan menjaga kedaulatan desa** Kutipan narasumber: "Supaya mereka tetap bisa konsumsi tapi tidak beli di kota... alangkah baiknya bikin dari halaman sekitar untuk diri sendiri, membentengi kesehatan keluarga."
- [34:06] **Tujuan akhir, keseimbangan hidup ekologis** Kutipan narasumber: "Menjadi pemilik usaha itu mencari keseimbangan kehidupan keluarga, sosial, emosional... biar usahanya kecil tapi berdampak dan mitranya banyak."

### S2E2 — Layang-layang Budaya Pertahanan Manusia di sekitar Sawah

Tayang: 2022-09-12 | Narasumber: Mas Kasan, penggerak desa | Video: https://www.youtube.com/watch?v=w8gi3it8lUY
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/layang-layang-budaya-pertahanan-manusia-di-sekitar-sawah

Mas Kasan menyoroti realitas pahit di mana sawah makin ditinggalkan generasi muda dan perlahan beralih fungsi atau rusak akibat sampah plastik. Untuk melawan krisis ini, ia menginisiasi Festival Layang-layang di area persawahan desanya.

Berbeda dengan festival pada umumnya, acara ini menerapkan aturan ketat bebas plastik sekali pakai. Siapa pun yang berdagang atau menonton dilarang menggunakan kemasan plastik, memaksa warga kembali menggunakan daun pisang atau material organik.

Lebih dari sekadar menerbangkan layangan raksasa, Mas Kasan menggunakan festival ini untuk memanggil kembali warga, dari anak-anak hingga lansia, untuk berinteraksi dengan sawah dan menjadikannya ruang publik yang menyenangkan, bukan sekadar ruang kerja yang identik dengan lumpur dan kemiskinan.

**Refleksi kritis.** Gerakan Mas Kasan adalah bentuk pedagogi kultural dan resistensi spasial. Sawah yang selama era modernisasi pertanian direduksi sekadar menjadi pabrik beras yang mekanis dan berjarak dari dimensi sosial warga, kini direklamasi kembali fungsi sosiologisnya.

Mas Kasan membuktikan bahwa konservasi lingkungan tidak bisa dilakukan lewat ceramah elitis, melainkan harus dibungkus melalui peristiwa kebudayaan yang mengikat memori kolektif masyarakat.

Secara makro, festival ini adalah tamparan terhadap hegemoni industrialisasi pangan. Dengan menarik pemuda kembali ke sawah melalui pintu seni dan hiburan, tumbuh ikatan emosional yang menjadi fondasi awal lahirnya regenerasi petani yang kritis terhadap kelestarian ekologi.

- [0:00] **Fenomena sawah ditinggalkan pemuda** Kutipan narasumber: "Memori saya dulu di sawah itu ramai, ruang publik... makin kesini yang ada tinggal orang tua, anak muda lebih suka kerja instan."
- [5:05] **Menginisiasi Festival Layang-Layang** Kutipan narasumber: "Saya tawarkan pemuda bikin festival layang-layang... anak-anak yang mayoritas buruh bangunan ini sangat semangat lembur bikin layangan besar."
- [9:40] **Membangun kepercayaan diri pemuda lewat tokoh** Kutipan narasumber: "Saya hubungi Mas Jaduk, Robi Navicula, Duta Sheila On 7 untuk bikin video support... anak-anak desa ini jadi tambah semangat dan percaya diri."
- [14:00] **Kampanye nol plastik di area festival** Kutipan narasumber: "Area itu steril dari plastik sekali pakai. Siapapun boleh jualan asal tidak pakai plastik... Selesai acara sampahnya sedikit sekali."
- [18:47] **Menyadarkan sawah adalah masa depan pangan** Kutipan narasumber: "Saya tanamkan, pertanian itu masa depan. Sektor yang paling ajaib... dari anak kecil sampai orang usia 80 tahun boleh masuk."
- [27:00] **Ironi saluran irigasi yang rusak akibat plastik** Kutipan narasumber: "Saluran irigasi untuk buang sampah plastik yang masuk ke sawah... Saya sudah dua kali lihat sawah sampai 'disaponi' (disapu) karena banyak plastiknya."
- [35:46] **Kembali ke kemasan organik tradisional** Kutipan narasumber: "Dulu kita kemasannya organik yang selesai membaur dengan alam... ibu-ibu memakai daun tanpa plastik itu bukan hal baru."
- [40:41] **Pendekatan kultural untuk advokasi ekologi** Kutipan narasumber: "Ada pendekatan kultural yang bisa dipakai untuk mempromosikan kecintaan pada ekologi di tengah kepungan plastik."

### S2E3 — Bertani Di Kota Bersama Warga

Tayang: 2022-10-02 | Narasumber: Vania, penggerak Seni Tani | Lokasi: Bandung, Jawa Barat | Video: https://www.youtube.com/watch?v=tbhp-HKSRao
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/bertani-di-kota-bersama-warga

Vania, perwakilan kelompok pemuda di Bandung yang menamai diri Seni Tani, memaparkan inisiatif pertanian urban di lahan terbengkalai. Berawal dari keprihatinan saat pandemi bahwa 96 persen sumber pangan Kota Bandung dipasok dari luar daerah, Vania dan komunitasnya menyulap lahan tidur di bawah jalur tegangan ekstra tinggi yang penuh sampah kasur dan beling menjadi kebun komunal yang produktif.

Mereka tidak hanya bertani, tetapi mengadaptasi sistem Community Supported Agriculture, di mana konsumen di kota berlangganan sayur dan turut membiayai operasional lahan sebelum panen. Sistem ini menjamin petani mendapat penghasilan tetap sekaligus mendidik warga kota memahami dari mana makanan mereka berasal.

**Refleksi kritis.** Seni Tani menyajikan kritik tajam atas kerentanan tata ruang dan ketahanan pangan urban. Kota besar di Indonesia umumnya rapuh karena sistem pangannya sangat bergantung pada rantai pasok eksternal.

Yang dilakukan Vania adalah praktik keadilan spasial: mengubah lahan terpinggirkan yang sarat stigma menjadi ruang produktif yang menjamin kedaulatan pangan warga sekitarnya. Konsep ekonomi berlangganan yang mereka usung merupakan antitesis dari mekanisme pasar bebas; ia membangun sistem ekonomi berbasis solidaritas, transparansi, dan kepercayaan antara produsen dan konsumen.

Pendekatan ini meruntuhkan komodifikasi pangan dan memposisikan makanan bukan sekadar barang dagangan, tetapi hak dasar yang diproduksi secara kolektif dan beretika.

- [0:00] **Makna filosofis nama Seni Tani** Kutipan narasumber: "Pertanian itu bukan hal yang saklek... dari Sabang sampai Merauke cara bertani beda-beda budayanya, dan itu kami anggap seni."
- [3:18] **Menyulap lahan SUTET menjadi kebun sayur** Kutipan narasumber: "Ada lahan SUTET terbengkalai, banyak sampah, beling, kasur... kita aktivasi lahan ini, kita bersihin bareng-bareng jadi kebun komunal."
- [8:50] **Membagi peran pemuda dalam pertanian kota** Kutipan narasumber: "Kita kumpul anak muda... nggak semuanya harus macul, ada yang aktivasi sosial media, bikin logo, ada yang main koneksi."
- [11:08] **Dinamika politik lahan dengan perangkat setempat** Kutipan narasumber: "RT dan Lurah sudah menyetujui dan support... tapi ada konflik kepentingan (conflict of interest) dengan level RW yang merasa tersaingi gerakannya."
- [18:07] **Tiga visi besar, akses pangan, regenerasi, transparansi** Kutipan narasumber: "Satu, akses pangan sehat untuk menengah ke bawah. Dua, regenerasi petani muda. Tiga, transparansi rantai pasok pangan siapa yang menanam."
- [22:17] **Urun dana dan berbagi hasil panen bagi disabilitas** Kutipan narasumber: "Kami mencari cara agar petani terapresiasi tapi orang tak mampu bisa menikmati... perusahaan beli sayur kami, lalu kami distribusikan ke teman-teman disabilitas dan lansia."
- [28:25] **Memperluas jaringan lewat komunitas Seribu Kebun** Kutipan narasumber: "Kita buat wadah 1000 Kebun, dari Sabang sampai Merauke kumpul di WhatsApp... akademisi, petani, penghobi kumpul sharing Movement yang sama."
- [35:51] **Sistem berlangganan yang menyejahterakan petani** Kutipan narasumber: "Sistem Community Supported Agriculture... mengumpulkan orang berlangganan sayur di awal, menjamin petani sejahtera dan konsumen dapat kepastian makanan sehat."

### S2E4 — Membangun Jejaring Ketahanan Pangan dari Sorghum Pangan Lokal di NTT

Tayang: 2022-11-30 | Narasumber: Elsa, sarjana pertanian, bersama Maria Loreta | Lokasi: Flores Timur, Nusa Tenggara Timur | Video: https://www.youtube.com/watch?v=ZBIxhKPP14k
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/membangun-jejaring-ketahanan-pangan-dari-sorghum-pangan-lokal-di-ntt

Elsa, seorang sarjana pertanian muda, menceritakan perjuangannya bersama Mama Sorgum, Maria Loreta, di Flores Timur. Di tengah krisis iklim yang membuat padi dan jagung sering gagal panen akibat lahan kering dan berbatu, Elsa menggerakkan petani untuk kembali menanam sorgum, tanaman pangan lokal yang sangat adaptif terhadap kekeringan.

Perjuangannya tidak mudah, dari meyakinkan petani agar mau menanam sorgum, hingga mengubah kultur lidah warga agar mau mengonsumsinya, terutama untuk pencegahan gizi buruk pada anak. Kini, berawal dari dua hektar, lahan sorgum telah meluas hingga puluhan hektar, dan limbah batangnya pun dimanfaatkan untuk pakan ternak.

**Refleksi kritis.** Kisah Elsa adalah manifestasi nyata dari dekolonisasi pangan dan perlawanan terhadap penyeragaman agraria. Kebijakan revolusi hijau di masa lalu menanamkan hegemoni bahwa beras adalah standar tunggal kemakmuran, menyingkirkan keanekaragaman pangan endemik Nusantara.

Dengan merevitalisasi sorgum, Elsa melakukan perlawanan ganda: beradaptasi dengan perubahan iklim ekstrem sekaligus memerangi kemiskinan struktural dan gizi buruk. Gerakan ini membuktikan bahwa jawaban atas ancaman krisis pangan global sejatinya sudah tertanam kuat pada kearifan lokal.

Keterlibatan Elsa sebagai intelektual muda organik yang memilih hidup di desa bersama petani menunjukkan bahwa sains dan tradisi bisa disintesiskan untuk menyelamatkan kedaulatan pangan lokal.

- [0:00] **Pengenalan dan awal mengenal sorgum** Kutipan narasumber: "Saya Elizabeth... saya mengenal sorgum waktu SMA. Saya ikut bapak ke kebun bantu penyiangan sampai panen sorgum."
- [6:55] **Menanam di lahan kering berbatu** Kutipan narasumber: "Kondisi lahannya itu berbatuan dan curah hujan sangat kurang. Petani sebelumnya gagal panen padi dan jagung karena iklim."
- [12:35] **Strategi ekonomi dan konsumsi petani** Kutipan narasumber: "Kami sarankan 40% nya dikonsumsi untuk rumah tangga, 60% nya untuk dijual memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan."
- [14:32] **Sorgum untuk pencegahan tengkes** Kutipan narasumber: "Sorgum ini nilai gizinya bagus untuk pencegahan stunting dan perbaikan gizi buruk... kami buat bubur sorgum dengan sayur dan ikan."
- [22:47] **Memanfaatkan limbah untuk pakan ternak** Kutipan narasumber: "Limbah sorgum kami manfaatkan... batang dan daunnya kami olah menjadi pakan ternak sapi dan kambing."
- [25:21] **Pendekatan tinggal bersama warga** Kutipan narasumber: "Kami tidak hanya datang memberi pelatihan, tetapi kami tinggal bersama masyarakat... kami ke kebun sama-sama, dari situ kami mengajak pelan-pelan."
- [32:07] **Menghadapi hama burung secara ekologis** Kutipan narasumber: "Ancaman terbesar adalah hama burung... untuk mengatasi itu, kami sarankan kalau tanam sorgum harus satu hamparan luas 2-3 hektar sekaligus."
- [40:34] **Harapan bagi pemuda desa** Kutipan narasumber: "Jangan pernah gengsi untuk mengembangkan potensi pangan lokal yang ada di desa kita, ketimbang harus mengimpor dari luar."

### S2E5 — Bisakah SDM di Desa diangkat dari Peristiwa Budaya? Pengalaman Legusa Festival

Tayang: 2022-12-22 | Narasumber: Roni Caron, musisi dan seniman | Lokasi: Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat | Video: https://www.youtube.com/watch?v=QjS-_BlxEYE
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/bisakah-sdm-di-desa-diangkat-dari-peristiwa-budaya-pengalaman-legusa-festival

Roni Caron, musisi dan seniman dari ISI Padang Panjang, menggagas Festival Legusa di Kabupaten Limapuluh Kota. Merasa gelisah bahwa selama ini dunia akademik seni hanya mengeksploitasi desa untuk riset lalu mementaskannya di kampus secara elitis, Roni memutuskan memulangkan kesenian kembali ke desa.

Ia mengajak pemuda dan warga desa menjadi subjek sekaligus penyelenggara festival. Acara diselenggarakan secara gotong royong: ibu-ibu menyumbang pisang dan nasi, para pemuda mengelola acara.

Uniknya, festival ini berdampak pada pembangunan infrastruktur. Jalan desa yang sebelumnya rusak dan titik-titik tanpa sinyal akhirnya diaspal dan dipasangi menara sinyal oleh pemerintah karena kebutuhan penyelenggaraan peristiwa budaya.

**Refleksi kritis.** Secara teoritis, Roni Caron menggunakan kebudayaan sebagai alat negosiasi politik dan rekayasa sosial. Festival Legusa bukan sekadar panggung hiburan, melainkan ruang deliberatif bagi warga desa untuk mengartikulasikan eksistensi mereka kepada negara.

Ketika warga berhasil menyelenggarakan acara yang masif, pemerintah daerah dipaksa turun dan melihat langsung ketimpangan infrastruktur desa tersebut. Ini metode yang sangat cerdas: kesenian berubah menjadi instrumen advokasi kebijakan publik.

Roni menempatkan warga dari sekadar objek penikmat kesenian elitis menjadi subjek produsen kebudayaan. Kekuatan modal sosial berupa gotong royong ibu-ibu dan pemuda menjadi antitesis dari cara kerja pembangunan modern yang selalu berbasis proposal dan proyek anggaran.

- [0:00] **Memulangkan kesenian ke desa** Kutipan narasumber: "Biasanya mahasiswa mencari materi seni ke kampung lalu dipentaskan di kampus. Kami berpikir, kenapa nggak dipulangkan kembali ke masyarakat?"
- [6:10] **Paradigma warga sebagai subjek budaya** Kutipan narasumber: "Membuat peristiwa budaya di tengah masyarakat... masyarakat diposisikan tidak lagi sebagai objek, tapi sebagai subjek pelaku dan pengelola."
- [9:38] **Merangkul anak muda pengangguran** Kutipan narasumber: "Saya memberdayakan anak-anak muda yang hobi gitar di pinggir jalan... saya ingin menantang mereka membuat gerakan untuk desa."
- [12:40] **Festival sebagai produsen kebahagiaan** Kutipan narasumber: "Ternyata yang kami buat ini adalah sebuah alat untuk memproduksi kebahagiaan masyarakat."
- [19:49] **Festival budaya memicu pembangunan infrastruktur** Kutipan narasumber: "Kami menggelar pentas di jalan yang tidak ada aspal, tahu-tahu tahun depannya diaspal. Di Harau tadinya nggak ada sinyal, sekarang ada jaringan internet."
- [24:06] **Menciptakan ruang bersama yang melebur sekat** Kutipan narasumber: "Kita hari ini butuh ruang bersama... ibu-ibu menyumbang pisang dan nasi, mereka lebur dengan sendirinya di festival ini."
- [29:07] **Jaringan Festival Warga** Kutipan narasumber: "Kita mendapat teman dari daerah lain dengan semangat yang sama... kita menamakan ini Festival Warga, nilai yang tumbuh dari warga itu yang dikembangkan."
- [41:49] **Alternatif kebosanan politik dan sosial** Kutipan narasumber: "Ini satu alternatif untuk kebosanan masyarakat terhadap fenomena sosial kita hari ini... muncul banyak festival yang basisnya desa-desa."

### S2E6 — Geliat Desa Terpencil yang Digerakkan oleh Perempuan: Cerita dari Humbang Hasundutan

Tayang: 2023-01-30 | Narasumber: Rela Mardiana Barasa, penggerak desa | Lokasi: Desa Ambobi Paranginan, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara | Video: https://www.youtube.com/watch?v=Ec9lSrDRM8M
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/geliat-desa-terpencil-yang-digerakkan-oleh-perempuan-cerita-dari-humbang-hasundutan

Rela Mardiana Barasa dari Desa Ambobi Paranginan, Humbang Hasundutan, tidak tahan melihat ibu-ibu rumah tangga di desanya menganggur sambil menunggu panen sawah yang hanya dua kali setahun. Melihat potensi buah salak yang melimpah namun tidak laku dan sering membusuk, ia mengorganisir mereka memproduksi dodol salak.

Inisiatif ekonomi ini kemudian merambah jauh. Ibu Rela tidak hanya fokus pada perut, tapi juga otak. Ia mendatangkan relawan guru dari Jakarta untuk mengajari anak-anak desa bahasa Inggris dan musik secara gratis, agar mereka tidak kalah bersaing dengan anak-anak di Jawa.

Kini ia memperluas kegiatannya pada kerajinan tangan bapak-bapak lansia dan produksi pewarna alami dari tanaman gambir untuk kain ulos.

**Refleksi kritis.** Ibu Rela merepresentasikan kepemimpinan feminis akar rumput yang memandang pemberdayaan secara holistik, mencakup emansipasi ekonomi sekaligus pendidikan. Langkahnya memutus mata rantai pengangguran musiman yang sering menjadi biang kemiskinan dan utang di perdesaan.

Transformasi komoditas mentah menjadi produk turunan yang awet adalah langkah strategis untuk keluar dari jebakan nilai tambah rendah pertanian subsisten.

Selain itu, mendirikan pendidikan gratis merupakan kritik sosial yang keras terhadap ketimpangan kualitas sumber daya manusia antara desa dan kota, antara Jawa dan luar Jawa. Ibu Rela memahami bahwa kapital masa depan bukanlah semata tanah, melainkan kualitas kognitif anak-anak generasinya.

- [0:00] **Potensi salak yang terbuang sia-sia** Kutipan narasumber: "Di kampung ini salak adalah penghasil utama tapi tidak laku dijual... saya berinisiatif, gimana caranya diolah biar laku."
- [3:40] **Menggerakkan ibu-ibu yang tidak bekerja** Kutipan narasumber: "Saya kumpulkan ibu-ibu yang tidak bekerja... daripada pinjam-pinjam, yuk kerja bantu saya bikin dodol salak."
- [6:22] **Inisiatif pendidikan bahasa Inggris gratis** Kutipan narasumber: "Di samping ekonomi, pendidikan kami jalankan juga. Saya cari guru dari Jakarta... supaya anak desa ini pintar, nggak kalah sama yang di kota."
- [9:05] **Memberdayakan lansia lewat kerajinan** Kutipan narasumber: "Bukan cuma ibu-ibu, bapak-bapak lansia saya kasih semangat bikin anyaman dan alat musik kecapi... saya yang tanggung jawab menjual ke sekolah."
- [12:25] **Tantangan, minimnya dukungan orang tua** Kutipan narasumber: "Kendalanya kadang orang tua kurang mendukung anaknya dibawa ke tempat les... padahal kita bantu kasih gratis, tapi SDM-nya kurang sadar."
- [15:00] **Target inovasi pewarna alami dari gambir** Kutipan narasumber: "Di sini banyak tanaman gambir dijual sangat murah... saya mau anak muda merangkul ini untuk diolah jadi pewarna alami kain ulos."
- [27:05] **Dukungan anak rantau untuk pendidikan** Kutipan narasumber: "Ada anak rantau yang sudah berhasil di Jakarta... kita komunikasi, dia yang bantu donasi untuk biaya pendidikan anak-anak di sini."
- [36:16] **Kemandirian desa tanpa bergantung bantuan** Kutipan narasumber: "Tujuan saya untuk menyejahterakan masyarakat. Jangan terpaku pada bantuan pemerintah... kalau kita bekerja dan berproduksi, semua masalah akan terlewati."

### S2E7 — Keberanian Anak Muda Milenial Meniti Jalan Bertani

Tayang: 2023-02-06 | Narasumber: Ronaldo, penggerak Milenial Gecur | Lokasi: Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur | Video: https://www.youtube.com/watch?v=gl29tOTpnJ0
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/keberanian-anak-muda-milenial-meniti-jalan-bertani

Ronaldo, anak muda dari Manggarai Timur, memutuskan pulang ke kampung halamannya untuk mengorganisir petani kopi. Ia melihat ironi kelam: kopi Flores sangat terkenal, tetapi petaninya semakin tua dan tetap miskin karena terjebak permainan harga tengkulak.

Lewat kelompok Milenial Gecur, ia membongkar kebiasaan petani menjual biji mentah asalan saat panen raya. Ronaldo mengedukasi teknik pengolahan kopi berstandar specialty, memotong jalur tengkulak dengan membeli langsung di harga tinggi, lalu mengemas dan memasarkannya lintas batas lewat media sosial, bahkan berhasil mengekspor secara independen ke Amerika dan Hongkong.

Ia mengampanyekan ajakan pulang kampung untuk menekan arus larinya kaum terpelajar dari desa.

**Refleksi kritis.** Tindakan Ronaldo adalah pembongkaran atas oligopoli tengkulak dan asimetri informasi di perdesaan. Tengkulak umumnya menang karena menguasai informasi pasar dan modal; Ronaldo menggantikannya dengan teknologi digital dan kualitas produk.

Transformasi dari kopi curah asalan menjadi kopi specialty merestorasi martabat produk lokal. Melalui kampanyenya, Ronaldo mengubah narasi usang bahwa sukses berarti merantau dan menetap di kota besar.

Ia membuktikan bahwa desa adalah episentrum ekonomi masa depan jika dikelola dengan penalaran saintifik dan kewirausahaan digital, dan bahwa bertani bukanlah pekerjaan kasta bawah melainkan profesi otonom yang membanggakan.

- [0:00] **Latar belakang ironi petani kopi** Kutipan narasumber: "Petani kopi di sini semakin tua semakin miskin, harga kopi tidak ada perubahan... pasca panen mereka belum paham permintaan pasar."
- [3:48] **Mulai dari obrolan ngopi bareng** Kutipan narasumber: "Saya kumpulkan petani, setiap minggu kita duduk ngopi bareng... dari situ mereka minta saya bawa inovasi untuk jawab persoalan mereka."
- [7:11] **Melawan monopoli tengkulak** Kutipan narasumber: "Saya beli kopi tingkat petani dengan harga cukup tinggi dari tengkulak... mereka merasa disaingi, pergerakan saya disoroti jadi ancaman buat mereka."
- [9:01] **Membentuk komunitas Milenial Gecur** Kutipan narasumber: "Saya membentuk kelompok milenial kreatif dan inovatif... kami sama-sama mencari jejaring pasar lewat media sosial."
- [16:40] **Menembus ekspor ke Amerika Serikat dan Hong Kong** Kutipan narasumber: "Pemasaran kita sudah lokal, nasional, bahkan 2019 kita melakukan ekspor perdana ke USA dan Hongkong."
- [19:01] **Fokus inovasi kopi specialty** Kutipan narasumber: "Kita punya arabika s795, yellow caturra, kopi juria... kita proses full wash, honey process, sesuai permintaan pasar."
- [21:08] **Kampanye Ayo Pulang Kampung** Kutipan narasumber: "Semakin banyak orang berpendidikan tinggi, semakin besar mereka meninggalkan kampung... Saya ingin buktikan, ayo pulang kampung berbuat sesuatu."
- [24:40] **Regenerasi petani dan kolaborasi kampus** Kutipan narasumber: "Petani kopinya sudah tua, tanaman kopinya juga tua. Kita butuh kolaborasi dengan kampus atau lembaga riset untuk keberlanjutan."

### S2E8 — Petani Muda, Agen Pertahanan Ekologi di Indonesia

Tayang: 2023-03-04 | Narasumber: Dimas Bagus Pratama, petani ekologis | Video: https://www.youtube.com/watch?v=ASH1BIJIdxc
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/petani-muda-agen-pertahanan-ekologi-di-indonesia

Dimas Bagus Pratama meninggalkan pekerjaannya di perusahaan vendor rokok besar demi mendalami laku spiritual yang bermuara pada kecintaannya pada pertanian ekologis. Melihat ironi revolusi hijau yang sukses menciptakan swasembada masa lalu namun meninggalkan residu berupa tanah yang mati akibat overdosis pupuk kimia sintetis, Dimas bergerak melakukan detoksifikasi lahan.

Ia mengajari petani memproses limbah industri dan rumah tangga organik, termasuk eceng gondok hingga kotoran ternak, menjadi pupuk kaya unsur hara dengan fermentasi cepat.

Menariknya, ia mengajarkan manajemen hama secara ekologis, misalnya menghalau tikus dengan aroma amoniak tertentu alih-alih membunuhnya, agar rantai makanan tidak terputus.

**Refleksi kritis.** Yang dilakukan Dimas adalah sebentuk bioremediasi bumi sekaligus kritik tajam terhadap paradigma agro-industri kapitalistik. Industrialisasi pertanian telah memperlakukan tanah semata sebagai mesin produksi biologis yang harus terus disuntik bahan kimia, yang pada akhirnya mematikan mikroorganisme tanah dan menyebabkan kemandekan hasil panen.

Pendekatan Dimas mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari jaringan ekologis.

Dengan menolak membeli pupuk kimia yang mahal dan memproduksi pupuk sendiri dari sampah, Dimas pada dasarnya menuntun petani menuju daulat input pertanian, melepaskan mereka dari ketergantungan abadi pada korporasi agrokimia global. Ini wujud pertahanan negara yang paling hakiki: mempertahankan tanah secara harfiah.

- [0:00] **Transformasi dari pekerja korporat ke aktivis tani** Kutipan narasumber: "Saya memberanikan diri keluar dari pekerjaan vendor perusahaan rokok... belajar dari Mataram kuno tentang sebab-akibat hidup."
- [11:16] **Dampak Revolusi Hijau yang tersembunyi** Kutipan narasumber: "Revolusi hijau bikin kita swasembada, tapi dampaknya sekarang tanah kita rusak, unsur haranya habis... kita makan perubahannya tapi tak pernah diganti."
- [15:09] **Bahaya residu kimia sintetik** Kutipan narasumber: "Produktivitas menurun, baku mutu residu di Indonesia sangat jauh di bawah Jepang... ini yang paling miris saat generasi penerus gagal karena unsur hara habis."
- [18:40] **Mengubah sampah menjadi solusi ekologi** Kutipan narasumber: "Sampah organik itu dihancurkan partikelnya jadi kecil biar mudah berhomogen... dicampur pupuk kompos, difermentasi, semudah itu."
- [24:58] **Menekan biaya produksi petani** Kutipan narasumber: "Harga pupuk naik semua dari tahun 90-an. Dengan cara saya, biaya operasional dan HPP rendah... sampah yang tak berguna jadi pupuk yang mereka cari."
- [36:20] **Petani sebagai pekerjaan paling mulia** Kutipan narasumber: "Pemuda nggak punya kafe masih bisa hidup, nggak ada pegawai bank masih bisa hidup. Tapi bayangin kalau nggak ada petani, mau makan apa?"
- [40:13] **Putusnya rantai makanan dan hama tikus** Kutipan narasumber: "Struktur persawahan diperluas tapi habitat rantai makanan hilang, sudah tidak ada ular di sawah. Tikus terlalu banyak karena dia insting cari makan."
- [46:52] **Ajakan pemuda untuk bertani cerdas** Kutipan narasumber: "Teman-teman muda bertani itu nggak harus mencangkul... ada teknologi tepat guna. Ayo sama-sama mencari teknologi, kalau perlu pakai drone."

### S3E1 — Anak Muda Papua Mengorganisasikan Kedaulatan Kampung

Tayang: 2023-03-29 | Narasumber: Kak Unes, Perkumpulan Bentara Papua | Lokasi: Kampung Solo, Salawati Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya | Video: https://www.youtube.com/watch?v=pXate_SEu-U
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/anak-muda-papua-mengorganisasikan-kedaulatan-kampung

Episode pembuka Season 3 menghadirkan Kak Unes, aktivis Perkumpulan Bentara Papua, yang membagikan pengalamannya mendampingi anak-anak muda di Kampung Solo, Distrik Salawati Barat, Raja Ampat. Kak Unes menginisiasi Sekolah Kampung Merdeka, ruang belajar inkonvensional bernama Stasiun Solo, tempat pemuda kampung yang awalnya menganggur berkumpul, berbagi cerita, dan berproses bersama.

Berbeda dengan pendekatan lembaga swadaya pada umumnya yang datang dengan proyek instan, Kak Unes membangun kepercayaan selama lima tahun secara organik. Mereka menggali potensi kampung yang melimpah, yakni kelapa, dan mengolahnya menjadi minyak kelapa murni, sabun mandi, hingga sambal ikan.

Melalui Stasiun Solo, anak-anak muda Papua yang sebelumnya tidak percaya diri dan putus sekolah kini bangkit menjadi motor penggerak ekonomi, bahkan mampu mempresentasikan produk mereka di hadapan wali kota dan pejabat daerah.

**Refleksi kritis.** Kisah Kak Unes adalah kritik tajam terhadap model pemberdayaan dari atas ke bawah dan ketergantungan pada proyek lembaga swadaya. Kak Unes menunjukkan bahwa pemberdayaan sejati tidak bermula dari transfer kurikulum, melainkan dari mendengarkan cerita warga.

Stasiun Solo beroperasi sebagai ruang konsolidasi sosial dan deliberasi publik, di mana pemuda yang termarjinalkan oleh hegemoni narasi pariwisata super-premium Raja Ampat menemukan kembali kedaulatan mereka. Dengan mengolah sumber daya lokal dan mendistribusikannya sendiri, mereka melakukan perlawanan struktural terhadap migrasi pemuda ke kota tanpa kepastian.

Lebih dalam lagi, tumbuhnya rasa percaya diri pemuda untuk berbicara di ruang publik adalah wujud pembentukan kewarganegaraan aktif: pemuda bukan lagi objek kebijakan, melainkan subjek politik yang siap mengintegrasikan inisiatifnya ke dalam perencanaan pembangunan desa.

- [0:00] **Latar belakang Bentara Papua di Raja Ampat** Kutipan narasumber: "Kami mempunyai fokus kerja di pegunungan Arfak Manokwari, Sorong Selatan, dan Kampung Solo di Kabupaten Raja Ampat."
- [4:18] **Mendirikan Sekolah Kampung Merdeka** Kutipan narasumber: "Kita undang anak-anak muda yang kategori pengangguran untuk ikut 'Sekam' di tempat yang kita sebut Stasiun Solo... tempat orang berkumpul."
- [7:47] **Kurikulum berbasis cerita kampung warga** Kutipan narasumber: "Hari pertama sekolah itu kita lebih kepada menggali informasi lewat sesi cerita kampung... organik sekali dari bawah."
- [10:24] **Tantangan membangun kepercayaan selama lima tahun** Kutipan narasumber: "Bagaimana kita dari Bentara Papua harus meyakinkan masyarakat bahwa yang kita buat ini berdampak untuk keberlanjutannya mereka."
- [20:15] **Melatih kepercayaan diri pemuda di ruang publik** Kutipan narasumber: "Pemuda ini saya bawa ke Kabupaten... biar mereka mempromosikan sendiri produk kelapa ini bukan sebagai proyek, tapi hasil anak muda Kampung Solo."
- [24:02] **Mengolah potensi kelapa lokal** Kutipan narasumber: "Di Solo sendiri ada 5 produk turunan dari kelapa... ada minyak kelapa, sambal ikan, ada sabun mandi."
- [32:07] **Integrasi program pemuda ke dalam RPJM kampung** Kutipan narasumber: "Kita sedang berdiskusi dengan pemerintah kampung agar program-program ini bisa dimasukkan ke dalam program kampung agar berkelanjutan."
- [35:59] **Tantangan mempromosikan Kampung Solo** Kutipan narasumber: "Orang mengenal Raja Ampat itu tempat wisata yang indah... Salawati ini tidak terkenal seperti yang lainnya, kita harus punya nilai jual tersendiri."
- [44:17] **Harapan, pemuda harus berani beraksi** Kutipan narasumber: "Banyak informasi yang bisa digali dari pembicaraan... bagaimana dari cerita-cerita itu dibuat menjadi tindakan konkret yang menghasilkan."

### S3E2 — KKN di Desa, Kolaborasi Pendidikan dan Partisipasi Warga, Mengapa Itu Penting?

Tayang: 2023-04-12 | Narasumber: Dr. Arie Sujito bersama pimpinan UGM | Lokasi: Kabupaten Madiun, Jawa Timur | Video: https://www.youtube.com/watch?v=lHyEhXYZIfY
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/kkn-di-desa-kolaborasi-pendidikan-dan-partisipasi-warga-mengapa-itu-penting

Episode ini dipandu Dr. Arie Sujito bersama jajaran pimpinan Universitas Gadjah Mada di sela observasi desa di Kabupaten Madiun. Mereka mendiskusikan relevansi dan tantangan Kuliah Kerja Nyata di era sekarang.

Jika KKN era 1970 hingga 1980-an identik dengan pengerahan tenaga fisik mahasiswa atau sekadar kegiatan amal yang berbau romantisme masa muda, KKN masa kini dituntut jauh lebih adaptif. Mengusung roh universitas kerakyatan, KKN hari ini didesain berbasis kolaborasi multidisipliner dan terintegrasi dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa.

Mahasiswa didorong menjadi pemecah masalah atas isu mutakhir desa, mulai dari digitalisasi pemasaran usaha mikro, membasmi hama tikus dengan inovasi non-mematikan, hingga merancang desa wisata. Perguruan tinggi juga didesak membuang ego sektoral dan mulai berkolaborasi antar-kampus agar program tidak tumpang tindih.

**Refleksi kritis.** Diskusi ini merepresentasikan redefinisi peran intelektual dan epistemologi pendidikan tinggi dalam konteks kerakyatan. KKN bukan lagi laboratorium eksperimen di mana desa menjadi objek penelitian, melainkan ko-kreasi pengetahuan antara sains akademis dan kebijaksanaan lokal.

Ketika mahasiswa berhadapan dengan isu sensitif seperti konflik agraria di desa, UGM menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh terjebak sebagai provokator demonstrasi, melainkan harus hadir sebagai fasilitator dialog dan agen literasi hukum.

Ini implementasi pedagogi transformatif, di mana mahasiswa belajar meretas batas antara teori di menara gading kampus dengan realitas empiris masyarakat. Dorongan sinkronisasi dengan rencana pembangunan desa juga menunjukkan pergeseran paradigma: dari peristiwa temporer menjadi instrumen audit sosial dan katalisator pembangunan desa yang terukur.

- [0:00] **Pembukaan dan observasi KKN di Kabupaten Madiun** Kutipan narasumber: "Dua hari ini kita melakukan observasi di desa-desa di Kabupaten Madiun... melihat perubahan desa dan cara pandang melihat desa."
- [3:08] **Reorientasi KKN kampus di era modern** Kutipan narasumber: "Dulu itu masa romantisme orang kota datang ke desa... sekarang situasinya berbeda, penggunaan teknologi komunikasi luar biasa."
- [10:01] **Potensi mahasiswa menjawab problematika riil** Kutipan narasumber: "Banyak petani modal besar tidak panen karena hama tikus... adik-adik sekarang punya kekuatan menjawab bagaimana menghilangkan hama tanpa setrum mematikan."
- [16:10] **Pentingnya membaca data RPJMDes** Kutipan narasumber: "Mahasiswa perlu diajak membaca data berbasis dokumen desa seperti RPJMDes sebagai bahan awal sebelum terjun ke lapangan."
- [18:47] **Mendorong kolaborasi antar-perguruan tinggi** Kutipan narasumber: "Agar antar perguruan tinggi yang lokasinya sama di berbagai tempat membuat kolaborasi... saling menutup celah dan saling belajar."
- [24:27] **Menghadapi isu sensitif agraria di desa** Kutipan narasumber: "Kemampuan mahasiswa membaca pemetaan masalah penting... mendorong secara kuat mencari alternatif solusi yang aman secara aturan regulasi."
- [30:21] **Mahasiswa harus jadi mediator, bukan provokator** Kutipan narasumber: "Tugas mahasiswa sebagai problem solver mendamaikan komunitas... kalau ada konflik pertanahan, beri pencerahan literasi hukum, jangan menciptakan kegaduhan."
- [36:38] **Menerjemahkan problem dan dinamika demokrasi** Kutipan narasumber: "Potret masyarakat harus update dibaca supaya instrumen pemberdayaan tidak salah sasaran."

### S3E3 — Dari Bukit Sampah Jadi Bukit Wisata: Kreativitas Para Muda Dibalik Viralnya Bukit Porong

Tayang: 2023-04-17 | Narasumber: Bung Roni, Ikatan Pemuda Kreatif | Lokasi: Desa Coal, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur | Video: https://www.youtube.com/watch?v=B-LlDJHX5Pc
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/dari-bukit-sampah-jadi-bukit-wisata-kreativitas-para-muda-dibalik-viralnya-bukit-porong

Bung Roni, sarjana pariwisata lulusan Bali, pulang ke kampung halamannya di Desa Coal, Kabupaten Manggarai Barat, sekitar tiga jam dari Labuan Bajo, karena terdampak pandemi pada 2020. Menyadari desa kelahirannya hanya dipandang sebelah mata di tengah hingar-bingar pariwisata super-prioritas Komodo, ia mengumpulkan ratusan anak muda penganggur dalam Ikatan Pemuda Kreatif.

Mereka secara swadaya menyulap bukit yang dulunya tempat pembuangan sampah dan sarang keributan pemuda menjadi Bukit Porong, destinasi desa wisata alam dan budaya.

Melalui Kelompok Sadar Wisata, Roni tidak menjual pemandangan semata, melainkan mengemasnya dalam lima elemen falsafah budaya Manggarai. Wisatawan diajak mengunjungi kebun kopi, meminum kopi lokal unggulan, dan menyaksikan tarian adat di halaman rumah. Bukit Porong meraih penghargaan nasional dan terkoneksi dengan sekolah internasional di Australia melalui pertukaran budaya virtual.

**Refleksi kritis.** Gerakan Roni adalah contoh reklamasi ruang dan demokratisasi pariwisata berbasis komunitas. Di saat pengembangan Labuan Bajo sarat isu eksklusi agraria, perampasan tanah, dan pariwisata ekstraktif yang menguntungkan korporasi besar, Bukit Porong menawarkan antitesis: pariwisata yang dikelola, dimiliki, dan dinikmati langsung oleh warga desa.

Roni menjalankan pariwisata bernarasi, yaitu memonetisasi narasi kebudayaan, di mana masa lalu, kopi, dan tarian tradisional Manggarai diubah menjadi aset tak ternilai bagi wisatawan asing.

Menariknya, Roni menempatkan warga sebagai aktor utama, bukan sekadar penonton di pinggir jalan tol pariwisata. Negosiasi status lahan yang awalnya milik pribadi menjadi dikelola kelompok warga juga menunjukkan kematangan berdemokrasi di level desa. Bukit Porong membuktikan bahwa pariwisata bukan alat yang mencerabut manusia dari akar budayanya, melainkan medium pelestarian yang melahirkan kebanggaan dan kedaulatan ekonomi lokal.

- [0:00] **Pengenalan Bung Roni dan Desa Coal, Manggarai Barat** Kutipan narasumber: "Saya mengambil studi pariwisata di Bali... pulang merespons pembangunan Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas."
- [5:46] **Menyulap bukit sampah menjadi Bukit Porong** Kutipan narasumber: "Kita manfaatkan bukit yang dulunya tempat pembuangan sampah... melibatkan anak muda tamatan SMA yang susah cari kerja akibat pandemi."
- [8:53] **Membentuk kelompok sadar wisata dan kelompok kerja** Kutipan narasumber: "Kita membentuk Kelompok Sadar Wisata yang punya Pokja homestay, kebersihan, keamanan, sampai seni budaya... sebagai wadah berdiskusi."
- [15:14] **Mengemas storynomic tourism berbasis budaya** Kutipan narasumber: "Kita mengedepankan destinasi dengan kekuatan cerita, living culture... atraksi wisata alam dan budaya."
- [23:52] **Filosofi Bukit Porong dan kopi harapan Kopintala** Kutipan narasumber: "Porong itu melihat, menonton... filosofinya harapan. Kami kembangkan Kopi Bintang (Kopintala) sebagai kopi dengan penuh harapan."
- [30:09] **Local champion harus berani praktik** Kutipan narasumber: "Lebih banyak anak muda pintar bicara tapi sulit praktek... harus ada local champion yang mengabdi dan berkomitmen berbuat sesuatu untuk kampungnya."
- [39:32] **Negosiasi lahan pribadi menjadi aset desa** Kutipan narasumber: "Lahan yang kami bangun itu milik pribadi tiga orang... ada pendekatan meyakinkan mereka bahwa lahan ini jadi investasi wisata."
- [51:10] **Wisata edukasi berbasis lima falsafah budaya Manggarai** Kutipan narasumber: "Paket wisata kami berdasarkan 5 falsafah budaya Manggarai... Mbaru Gendang, Natas, Compang, Uma, dan Wae."
- [53:47] **Pengalaman membawa wisatawan asing ke kebun** Kutipan narasumber: "Wisatawan Polandia datang ke sini untuk melihat proses tradisional kopi di kebun (Uma)... mereka merasa ini kopi terbaik."

### Kata Kunci #1 — Borobudur Milik Siapa? Borobudur Untuk Siapa?

Tayang: 2022-06-08 | Video: https://www.youtube.com/watch?v=TGs4zBXVOiM
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/borobudur-milik-siapa-borobudur-untuk-siapa

Episode ini membongkar paradoks pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur yang sering kali meminggirkan aktor utamanya: masyarakat lokal. Wacana yang dibangun menggugat logika pembangunan top-down yang mereduksi Borobudur sekadar sebagai tumpukan batu bersejarah atau komoditas pariwisata yang dieksploitasi untuk mendatangkan devisa. Di balik kemegahan fisik monumen tersebut, terdapat denyut nadi ekonomi, sosial, dan kebudayaan masyarakat agraris dan pengrajin yang hidup di sekitarnya.

Pesan sentral dari diskursus ini adalah peringatan keras terhadap konservasi elitis. Upaya pelestarian sejarah tidak boleh berujung pada penggusuran kultural masyarakat setempat. Narasi ini secara tegas menolak posisi warga sekadar sebagai pelengkap penderita atau pekerja rendahan di tengah gegap gempita proyek Otorita.

Masyarakat lokal harus diposisikan sebagai subjek perancang kebijakan. Transformasi pengetahuan harus dikembalikan ke akar rumput; masyarakat harus memiliki hak interpretasi dan pengelolaan atas ruang hidupnya sendiri. Jika pariwisata dikelola tanpa pelibatan partisipatoris yang adil, maka proyek tersebut hanya akan menguntungkan pemilik modal besar, sementara guyub rukun masyarakat desa akan tercabik-cabik oleh komersialisasi ruang.


### Kata Kunci #2 — Adakah Demokrasi Berkualitas Menjelang Pemilu 2024

Tayang: 2022-11-30 | Video: https://www.youtube.com/watch?v=C9BWAYxM1Ao
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/adakah-demokrasi-berkualitas-menjelang-pemilu-2024

Wacana dalam episode ini membedah kecemasan publik atas kualitas demokrasi prosedural yang semakin kehilangan substansinya. Menjelang tahun-tahun politik, ruang publik kerap dibanjiri oleh baliho-baliho raksasa dan pencitraan artifisial, namun miskin gagasan. Episode ini adalah sebuah interupsi kritis terhadap elite politik yang lebih senang memproduksi sentimen dan memobilisasi politik identitas daripada menawarkan solusi atas krisis nyata.

Terdapat urgensi untuk mereformasi menu perbincangan politik. Alih-alih terjebak dalam pembelahan sosial akibat fanatisme kandidat, publik diajak untuk menuntut narasi yang rasional. Ancaman krisis ekonomi global, kerentanan pangan, energi, dan polarisasi sosial adalah realitas yang harus dipaksa masuk ke dalam arena perdebatan para kandidat.

Forum diskusi nasional ini menegaskan perlunya literasi publik yang tajam untuk menguliti rekam jejak para politisi. Melalui tekanan dari masyarakat sipil, kontestasi politik dapat digeser dari sekadar pameran pesona menjadi arena dialektika pemikiran, sehingga masyarakat dapat mengenali mana politisi yang benar-benar memiliki kapasitas teknokratis dan mana yang sekadar manipulator identitas.


### Kata Kunci #3 — Menjelang Pemilu 2024, Politik Indonesia Seharusnya untuk Rakyat

Tayang: 2023-02-01 | Video: https://www.youtube.com/watch?v=xp4GJsAN9ZU
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/menjelang-pemilu-2024-politik-indonesia-seharusnya-untuk-rakyat

Demokrasi pasca-otoritarianisme di Indonesia diuji oleh kegagalan sistemik dari partai politik itu sendiri. Episode ini menyoroti perdebatan tentang sistem pemilu, proporsional terbuka versus tertutup, sebagai gejala dari penyakit yang lebih dalam: partai politik telah kehilangan fungsi ideologisnya dan tereduksi menjadi sekadar agen penjual tiket bagi para politisi pragmatis.

Keluhan mengenai politik biaya tinggi dan transaksionalitas bukanlah semata-mata kesalahan sistem pemilu terbuka, melainkan bukti bahwa partai gagal mendidik, mengikat kader, dan membangun basis konstituen yang loyal berdasarkan gagasan. Ketika partai gagal menjadi wadah konsolidasi aspirasi, pertarungan politik berubah menjadi pasar bebas kapital di mana siapa yang memiliki modal terbesar akan menang.

Narasi kritis ini mendesak reformasi radikal di tubuh partai politik. Partai harus dipaksa turun dari menara gadingnya untuk mengakar kembali pada penderitaan dan persoalan keseharian rakyat. Pemilu tidak boleh hanya menjadi ritual sirkulasi elite; ia harus menjadi instrumen di mana pemilih bertransformasi dari sekadar lumbung suara menjadi warga negara aktif yang mengendalikan arah kekuasaan.


### Kata Kunci #4 — Kembalikan Demokrasi Desa Melalui Partisipasi Publik

Tayang: 2023-02-23 | Video: https://www.youtube.com/watch?v=pPx7KoMaXXE
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/kembalikan-demokrasi-desa-melalui-partisipasi-publik

Desa bukan lagi sekadar entitas administratif di ujung hierarki negara, melainkan episentrum peradaban dan demokrasi lokal pasca disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014. Episode ini memberikan pembelaan sosiologis terhadap desa di tengah berbagai sinisme publik, seperti isu perpanjangan masa jabatan kepala desa yang dikhawatirkan memicu oligarki lokal. Analisis menolak evaluasi yang murni bersifat instrumental atau birokratis semata.

Demokrasi desa tidak boleh divonis gagal hanya karena munculnya anomali perilaku oknum pimpinan lokal. Evaluasi yang adil harus melihat lompatan partisipasi yang luar biasa di akar rumput. Lahirnya BUMDes, pemetaan data partisipatif oleh pemuda desa, dan transparansi anggaran adalah bukti nyata bahwa otonomi sedang bekerja.

Jika ada ancaman hegemoni di tingkat lokal, solusinya bukanlah mencabut kembali otonomi desa ke pusat, melainkan melembagakan kontrol publik. Partisipasi warga harus dinaikkan levelnya dari sekadar keterlibatan teknis menjadi pengambil keputusan strategis. Di sinilah letak kedaulatan sesungguhnya: ketika kekuasaan di desa terus-menerus diawasi dan diinterupsi secara demokratis oleh warganya sendiri.


### Kata Kunci #5 — Anak Muda dan Politik Berpotensi Memperkuat Demokrasi di Indonesia

Tayang: 2023-03-12 | Video: https://www.youtube.com/watch?v=aoB8n9pS6bg
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/anak-muda-dan-politik-berpotensi-memperkuat-demokrasi-di-indonesia

Pemuda selalu menjadi penanda zaman, namun tantangan mereka saat ini berbeda secara diametral dengan generasi sebelumnya. Dalam episode ini, pemuda tidak lagi dibaca melalui kerangka romantisme pergerakan jalanan masa lalu, melainkan diposisikan sebagai aktor sentral di ruang digital yang penuh polusi informasi. Era keterbukaan membawa ironi: akses kekuasaan lebih terbuka, namun ruang publik dipenuhi kepalsuan, segregasi, dan narasi kebencian.

Generasi muda tidak boleh hanya dikomodifikasi oleh partai politik sebagai komoditas penyumbang angka demografi pemilih pemula. Mereka harus merebut fungsi emansipatorisnya dengan menjadi agen literasi. Kecerdasan dan ketangkasan anak muda dalam menavigasi teknologi harus digunakan untuk mendisrupsi informasi sampah dan memproduksi pencerahan.

Melalui artikulasi narasi yang kreatif dan elegan di media sosial, kaum muda memiliki tanggung jawab historis untuk menjernihkan diskursus publik, memaksa elite politik berbicara tentang esensi, dan menjadi benteng terakhir yang menjaga nalar kewarasan demokrasi Indonesia dari ancaman populisme murahan.


### Kata Kunci #6 — Pentingnya Kolaborasi Pendidikan dan Partisipasi Warga

Tayang: 2023-04-10 | Video: https://www.youtube.com/watch?v=BZXIoqn8y-4
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/pentingnya-kolaborasi-pendidikan-dan-partisipasi-warga

Episode ini menyentuh lapisan fundamental dari rekayasa sosial: sistem pendidikan. Terdapat kritik tajam terhadap model pendidikan elitis yang mencabut individu dari realitas sosial dan ekologinya sendiri. Pengetahuan tidak bisa hanya diproduksi di ruang-ruang kelas steril atau melalui kurikulum yang terasing dari problem nyata masyarakat.

Pendidikan harus dikembalikan pada fungsinya sebagai instrumen liberasi dan penyelesaian krisis lokal. Dengan mengedepankan kolaborasi dan partisipasi warga, produksi pengetahuan tidak lagi dimonopoli oleh institusi formal. Warga, mulai dari petani, nelayan, hingga kaum marginal, adalah produsen pengetahuan yang sah atas ruang hidupnya.

Partisipasi ini melahirkan metode belajar yang kontekstual: mengolah data desa, memahami tata kelola lingkungan, hingga merancang ekonomi mandiri. Ini adalah seruan agar pendidikan bertransformasi menjadi laboratorium sosial yang hidup, di mana teori akademis terus-menerus diuji dan disempurnakan oleh praksis dan pengalaman langsung masyarakat dalam bertahan hidup dan membangun kedaulatannya.


### Kata Kunci #7 — Kontrak Politik Bersama Rakyat Jelang Pemilu 2024

Tayang: 2023-06-04 | Video: https://www.youtube.com/watch?v=CCetHk4r57U
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/kontrak-politik-bersama-rakyat-jelang-pemilu-2024

Sebuah evaluasi kritis terhadap mesin penyelenggara negara yang sering kali mereduksi pemilu menjadi sekadar hitung-hitungan teknokrasi dan logistik. Episode ini menegaskan bahwa prosedur yang rapi tidak menjamin demokrasi yang bermutu jika esensinya hampa. Masyarakat dibiarkan menjadi penonton pasif sementara para elite sibuk menegosiasikan kekuasaan.

Untuk memutus siklus apatisme dan reproduksi politik identitas, masyarakat sipil dituntut untuk mengonsolidasikan diri dan melakukan perlawanan struktural. Caranya adalah dengan merumuskan kontrak politik yang berangkat dari penderitaan dan kebutuhan riil warga di tingkat mikro, seperti masalah pupuk, akses kesehatan, dan penggusuran ruang. Kontrak ini menjadi senjata bagi rakyat untuk menyandera janji kandidat sebelum memberikan suara.

Episode ini adalah ajakan berpolitik secara kalkulatif dan rasional: memaksa pemilih melakukan penelusuran ketat terhadap rekam jejak kandidat, menolak cek kosong politik, dan memastikan bahwa suara rakyat ditukar dengan kebijakan publik yang menjamin keadilan sosial, bukan sekadar janji manis di atas panggung kampanye.


### Kata Kunci #8 — Pemilu dan Agenda Demokrasi yang Berlanjut

Tayang: 2023-07-12 | Video: https://www.youtube.com/watch?v=ojaVgAmHB-o
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/pemilu-dan-agenda-demokrasi-yang-berlanjut

Pemilu sering kali disalahpahami sebagai garis akhir dari sebuah proses demokrasi. Episode ini membongkar ilusi tersebut dengan menegaskan bahwa bilik suara hanyalah mekanisme transisi, sedangkan roh demokrasi yang sebenarnya terletak pada apa yang terjadi pada hari-hari setelah pemilu usai. Ada bahaya besar jika masyarakat sipil membubarkan barisan dan kembali pada zona nyamannya segera setelah pemerintahan baru terbentuk.

Demokrasi adalah proyek yang tidak pernah selesai. Kualitas demokrasi tidak diukur dari seberapa damai sebuah pemilu berlangsung, melainkan dari seberapa tangguh masyarakat mengawasi kekuasaan yang baru saja mereka beri mandat. Agenda penegakan hak asasi, perlindungan ruang ekologi, perlawanan terhadap oligarki, dan distribusi kesejahteraan harus terus dikawal.

Episode ini menjadi pengingat yang bergaung kuat: tanpa checks and balances ekstra-parlementer dari masyarakat sipil yang terorganisir, kekuasaan demokratis sekalipun akan dengan sangat cepat membusuk, terkooptasi oleh kepentingan elite, dan berbalik menindas rakyat yang memilihnya.


### Kata Kunci #9 — Rakyat Butuh Substansi Gagasan Politik, Bukan Akrobat Politik

Tayang: 2023-09-05 | Video: https://www.youtube.com/watch?v=Z2cCQ-26W3A
Halaman: https://ariesujito.com/bincang-pinggiran/rakyat-butuh-substansi-gagasan-politik-bukan-akrobat-politik

Ini adalah puncak gugatan terhadap teater politik nasional. Publik disuguhi akrobat politik yang melelahkan: manuver loncat koalisi, pembentukan poros-poros kekuasaan elitis, dan pembingkaian media yang secara obsesif hanya menyoroti siapa berpasangan dengan siapa. Wacana seperti ini membajak ruang publik, menyedot energi masyarakat pada hal-hal yang sama sekali tidak bersentuhan dengan hajat hidup mereka.

Episode ini berfungsi sebagai forum diskusi nasional yang menuntut intervensi segera dari kekuatan sipil, yaitu kampus, jurnalis, dan organisasi masyarakat sipil, untuk merebut kembali narasi. Para kandidat dan tim suksesnya harus diseret keluar dari zona nyaman manuver taktis mereka dan dipaksa bertarung di arena substansi.

Isu tentang ketimpangan struktural, kerusakan tata ruang, polusi ekologi, hingga ancaman krisis pangan dan energi global harus menjadi alat ukur utama dalam menilai kandidat. Demokrasi hanya akan bermakna jika kontestasinya didasarkan pada perdebatan desain masa depan negara, bukan sekadar pertunjukan sirkus tentang siapa yang paling pintar mengumpulkan dukungan elite.

