Agradaya membuka Pasar Rempah untuk Desa Berdaya

Episode perdana Season 2 menghadirkan Andika dan Asri, pasangan muda yang meninggalkan kemapanan karier korporat di kota untuk mendirikan Agradaya di kawasan Menoreh, Kulon Progo.…

Bersama Andika dan Asri, pendiri Agradaya di Menoreh, Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Episode perdana Season 2 menghadirkan Andika dan Asri, pasangan muda yang meninggalkan kemapanan karier korporat di kota untuk mendirikan Agradaya di kawasan Menoreh, Kulon Progo. Keresahan mereka bermula dari model industri ekstraktif yang tidak ramah lingkungan dan memarjinalkan masyarakat desa. Melalui Agradaya, mereka mengorganisir ibu-ibu petani untuk mengolah rempah lokal seperti empon-empon, jahe, dan kunyit yang awalnya dijual murah dalam bentuk basah, menjadi simplisia kering yang bernilai jual jauh lebih tinggi. Mereka mengajarkan standardisasi, kebersihan, hingga pengemasan yang memampukan produk desa menembus pasar spesifik gaya hidup sehat organik di perkotaan. Andika dan Asri membuktikan bahwa keseimbangan antara idealisme ekologis, pemberdayaan sosial, dan profitabilitas ekonomi bukanlah utopia, melainkan sesuatu yang bisa dipraktikkan langsung di akar rumput.

Secara sosiologis, yang dilakukan Agradaya adalah dekonstruksi rantai pasok kapitalis. Selama ini petani rempah terjebak sebagai penerima harga di dasar piramida rantai pasok yang dikuasai tengkulak. Agradaya melakukan intervensi rantai nilai dengan mentransfer teknologi pengolahan dasar ke tingkat desa. Ini sebentuk perlawanan terhadap keterasingan petani atas produknya sendiri. Melalui edukasi pascapanen, petani tidak lagi hanya menjadi buruh di tanahnya sendiri, melainkan subjek ekonomi yang berdaulat. Keberhasilan Agradaya juga mematahkan mitos bahwa anak muda terpelajar harus bermuara di industri urban. Fenomena ini menawarkan model wirausaha sosial di mana akumulasi modal tidak lagi bersifat eksploitatif, melainkan distributif dan regeneratif terhadap ekologi desa.

Rincian bahasan

  1. Pembukaan dan latar belakang Agradaya Di sanggar ini kita berbincang isu yang penting tapi sering tidak terepresentasikan... soal rempah sebagai sumber daya ekologi.
  2. Keluar dari korporat dan pindah ke desa Saya sempat bekerja di bidang engineering... merasa apakah seumur hidup saya akan begini? Saya berharap keluar bisa diaplikasikan ke orang lain.
  3. Membaca peluang empon-empon dan tren sehat Ada sekelompok ibu-ibu bertani jahe, kunyit... ini punya potensi dikembangkan, apalagi saat pandemi jamu jadi tren lagi.
  4. Menghubungkan idealisme dan bisnis Bagaimana menghubungkan misi mulia dengan ekonomi... kami mengupayakan produk lestari, ramah lingkungan, dan mengedukasi market.
  5. Belajar kearifan pengobatan dari simbah-simbah Apakah ibu-ibu belajar ke aku atau aku belajar ke mereka? Justru simbah-simbah ini yang inspirasi aku bikin produk dari alam sekitar.
  6. Edukasi standar pascapanen bagi ibu-ibu petani Kita ajarin formulasi, ciri awal pengeringan... kalau udah diajarin nanti ibu-ibu ini bisa mandiri berproduksi dan jualan sendiri.
  7. Memutus rantai tengkulak dan menjaga kedaulatan desa Supaya mereka tetap bisa konsumsi tapi tidak beli di kota... alangkah baiknya bikin dari halaman sekitar untuk diri sendiri, membentengi kesehatan keluarga.
  8. Tujuan akhir, keseimbangan hidup ekologis Menjadi pemilik usaha itu mencari keseimbangan kehidupan keluarga, sosial, emosional... biar usahanya kecil tapi berdampak dan mitranya banyak.

Tonton episode lengkap di YouTube