Kolom dan esai yang ditulis sendiri di koran nasional dan media daring. Bedanya dengan kutipan media menentukan: di sini pemenggalannya pilihan penulisnya, bukan pilihan wartawan.
Menggugat Resentralisasi dan Kegagalan Desentralisasi: Belajar dari Perlawanan Rakyat Pati
— Protes skala besar yang dilakukan masyarakat Kabupaten Pati, Jawa Tengah, 13 Agustus 2025, menandai suatu fase baru dalam pertarungan demokrasi dan otokrasi di Indonesia. Diwujudkan dalam aksi terorganisir dari warga terdampak kebijakan, Pati hadir sebagai kasus paradigmatik mengenai bangkitnya gerakan perlawanan rakyat di daerah sekaligus sinyal terkini tentang disorientasi ekonomi-politik dari rezim Keberlanjutan Prabowo. Tidak semata soal kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan atau gaya seorang bup
Paradoks Nasionalisme dan Sekuritisasi Politik
— Presiden Prabowo, di halaman Gedung Pancasila, 2 Juni 2025, membuat pernyataan tegas bahwa sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat didanai pihak asing. Hal ini diucapkan sebagai bagian dari pidato resmi kenegaraan memperingati hari lahir Pancasila ke-80. Pernyataan tersebut mendapatkan tanggapan beragam dari masyarakat.
Tonggak Politik: Kumpulan Esai Dua Dekade Demokrasi Indonesia
— Empat puluh tujuh esai, dua laporan wawancara, dan satu naskah profil, sebelumnya tersebar di media massa dan jurnal sepanjang 2000 hingga 2020, dikumpulkan dalam 290 halaman. Diluncurkan di Desa Gunungsari, Madiun, kampung halaman penulisnya.
Inisiatif masyarakat saat pandemi lahir karena lambannya gerak pemerintah
— Inisiatif warga selama pandemi, dari penggalangan dana sampai produksi masker secara swadaya, tumbuh justru karena negara bergerak lamban. Gotong royong semacam itu tidak akan bertahan sendirian tanpa sokongan kebijakan.
Mengatasi Rapuhnya Demokrasi
— Bangunan demokrasi Indonesia berada di ambang keruntuhan ketika pilar-pilarnya rapuh satu per satu: partai politik digerogoti korupsi dan skandal kekuasaan, kebebasan sipil untuk berekspresi dijepit kekuatan mayoritas di masyarakat, dan penegakan hukum dirusak oleh aparatnya sendiri. Pelaksanaan demokrasi secara prosedural boleh dianggap lancar, damai, bahkan makin mapan, tetapi proses dan capaian perubahannya tidak sepadan dengan harapan. Ringkasan ini disusun dari pokok argumen artikelnya; tek
Memprediksi Pilpres
— Secara formal deklarasi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden telah dilakukan pada 19 Mei 2014, dengan perkiraan pertarungan berhadapan langsung pada 9 Juli 2014.
Pemilu Culas, Demokrasi Bablas
— Pemilu 2014 ini, sesungguhnya menjadi pertaruhan apakah Indonesia memasuki lepas landas, ataukah akan kandas.
Pesan untuk Pemilih
— Pemilu yang akan dilangsungkan pada 9 April 2014 ini, tentu memiliki beban berat. Ada harapan atas redistribusi kekuasaan, sekaligus kekhawatiran atas merosotnya mutu hasilnya.
Pertaruhan RUU Desa
— Apa sebenarnya yang diharapkan masyarakat desa atas Rancangan Undang-Undang Desa yang sekarang dalam pembahasan oleh pemerintah dan DPR? Jawabannya adalah pengakuan atas keberadaan desa dan perbaikan kesejahteraan.
Kemerosotan Demokrasi Liberal-Prosedural: Indonesia Pasca Otoriterisme
— Benarkah sejak tumbangnya Orde Baru kita betul-betul memasuki demokrasi liberal sebagaimana ditandai sistem multipartai? Pertanyaan ini bisa mengawali diskusi, sekaligus perdebatan kita, saat publik, khususnya para aktivis, resah atas ketidakberesan perubahan sejak reformasi berlangsung. Banyak harapan besar menghiasi narasi perjuangan harus musnah, karena demokrasi dalam pengertian substantif tidak pernah terwujud.