Data desa selama ini adalah instrumen kolonialisasi yang dikuasai elit birokrasi, BPS, dan kementerian, sementara warganya buta akan potensi wilayahnya sendiri. Mas Dendi dari Des…
Bersama Mas Dendi, penggerak data desa di Desa Pule, Kediri, Jawa Timur.
Data desa selama ini adalah instrumen kolonialisasi yang dikuasai elit birokrasi, BPS, dan kementerian, sementara warganya buta akan potensi wilayahnya sendiri. Mas Dendi dari Desa Pule, Kediri, menceritakan sebuah revolusi epistemologis: anak muda desa merebut kembali kedaulatan data melalui pemetaan partisipatif secara door-to-door. Mereka membangun sensus mandiri secara digital yang mencakup demografi, aset sosial, hingga pola konsumsi setiap kepala keluarga.
Proses pengumpulan data ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan metodologi penyadaran sosial yang mengubah pemuda apatis menjadi militan dan mencintai desanya. Lebih radikal lagi, data ini digunakan untuk membongkar mafia distribusi pupuk. Bermodalkan data riil kebutuhan petani, pemuda mendesak BUMDes untuk mengambil alih jalur distribusi pupuk dan merancang ketahanan pangan lokal.
Episode ini adalah cetak biru pengelolaan pengetahuan di tingkat akar rumput, membuktikan bahwa penguasaan data oleh warga adalah kunci utama membongkar hegemoni pasar dan merancang kedaulatan desa secara presisi.
Rincian bahasan
Pembukaan dan awal mula ide pemetaan partisipatif
Bermula dari pergantian Kepala Desa dan adanya sekat sosial di antara anak-anak muda di berbagai dusun. Mas Dendi mengusulkan pemetaan desa oleh warga sendiri untuk menyatukan pemuda dan membantu Kepala Desa baru merumuskan arah pembangunan.
Mengapa pemuda perlu memetakan desanya sendiri
Mendobrak posisi desa yang hanya menjadi objek data
Meyakinkan perangkat desa dan pemuda bahwa desa tidak boleh terus-terusan hanya disurvei oleh pihak luar seperti BPS atau kementerian tanpa pernah memiliki arsip datanya sendiri. Desa harus mandiri secara data.
Perjuangan setahun pendataan dari pintu ke pintu, seluruh warga
Menggunakan formulir manual dan Google Form, anak-anak muda berhasil mendata 1.769 kepala keluarga, seluruh warga desa, selama satu tahun penuh. Hambatannya meliputi sinyal internet dan warga yang sering tidak ada di rumah sehingga harus didatangi berulang kali.
Dampak sosial, melatih etika kulonuwun anak muda
Proses ini mengajari pemuda tentang etika dan sopan santun kepada warga yang lebih tua, membuat mereka lebih percaya diri, serta menyadarkan mereka akan kondisi riil desanya sendiri, baik potensi maupun kemiskinannya.
Membangun aplikasi desa untuk melawan kolonialisme data
Pemuda desa yang berkuliah di jurusan teknologi informasi akhirnya menciptakan aplikasi sistem informasi desa berdasarkan data tersebut. Ini wujud kedaulatan data, ketika warga tidak lagi menjadi bahan mentah bagi platform milik pihak lain.
Memanfaatkan data untuk menyelesaikan krisis pupuk petani
Dari data tersebut terungkap bahwa mayoritas warga bekerja sebagai petani namun desa tidak memiliki kios pupuk resmi. Data ini dipakai untuk menekan pemerintah agar BUMDes bisa disahkan sebagai penyalur pupuk resmi.
Cita-cita BUMDes dan kedaulatan pangan desa berbasis data