Episode pembuka Season 3 menghadirkan Kak Unes, aktivis Perkumpulan Bentara Papua, yang membagikan pengalamannya mendampingi anak-anak muda di Kampung Solo, Distrik Salawati Barat…
Bersama Kak Unes, Perkumpulan Bentara Papua di Kampung Solo, Salawati Barat, Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Episode pembuka Season 3 menghadirkan Kak Unes, aktivis Perkumpulan Bentara Papua, yang membagikan pengalamannya mendampingi anak-anak muda di Kampung Solo, Distrik Salawati Barat, Raja Ampat. Kak Unes menginisiasi Sekolah Kampung Merdeka, ruang belajar inkonvensional bernama Stasiun Solo, tempat pemuda kampung yang awalnya menganggur berkumpul, berbagi cerita, dan berproses bersama. Berbeda dengan pendekatan lembaga swadaya pada umumnya yang datang dengan proyek instan, Kak Unes membangun kepercayaan selama lima tahun secara organik. Mereka menggali potensi kampung yang melimpah, yakni kelapa, dan mengolahnya menjadi minyak kelapa murni, sabun mandi, hingga sambal ikan. Melalui Stasiun Solo, anak-anak muda Papua yang sebelumnya tidak percaya diri dan putus sekolah kini bangkit menjadi motor penggerak ekonomi, bahkan mampu mempresentasikan produk mereka di hadapan wali kota dan pejabat daerah.
Kisah Kak Unes adalah kritik tajam terhadap model pemberdayaan dari atas ke bawah dan ketergantungan pada proyek lembaga swadaya. Kak Unes menunjukkan bahwa pemberdayaan sejati tidak bermula dari transfer kurikulum, melainkan dari mendengarkan cerita warga. Stasiun Solo beroperasi sebagai ruang konsolidasi sosial dan deliberasi publik, di mana pemuda yang termarjinalkan oleh hegemoni narasi pariwisata super-premium Raja Ampat menemukan kembali kedaulatan mereka. Dengan mengolah sumber daya lokal dan mendistribusikannya sendiri, mereka melakukan perlawanan struktural terhadap migrasi pemuda ke kota tanpa kepastian. Lebih dalam lagi, tumbuhnya rasa percaya diri pemuda untuk berbicara di ruang publik adalah wujud pembentukan kewarganegaraan aktif: pemuda bukan lagi objek kebijakan, melainkan subjek politik yang siap mengintegrasikan inisiatifnya ke dalam perencanaan pembangunan desa.
Kami mempunyai fokus kerja di pegunungan Arfak Manokwari, Sorong Selatan, dan Kampung Solo di Kabupaten Raja Ampat.
Kita undang anak-anak muda yang kategori pengangguran untuk ikut 'Sekam' di tempat yang kita sebut Stasiun Solo... tempat orang berkumpul.
Hari pertama sekolah itu kita lebih kepada menggali informasi lewat sesi cerita kampung... organik sekali dari bawah.
Bagaimana kita dari Bentara Papua harus meyakinkan masyarakat bahwa yang kita buat ini berdampak untuk keberlanjutannya mereka.
Pemuda ini saya bawa ke Kabupaten... biar mereka mempromosikan sendiri produk kelapa ini bukan sebagai proyek, tapi hasil anak muda Kampung Solo.
Di Solo sendiri ada 5 produk turunan dari kelapa... ada minyak kelapa, sambal ikan, ada sabun mandi.
Kita sedang berdiskusi dengan pemerintah kampung agar program-program ini bisa dimasukkan ke dalam program kampung agar berkelanjutan.
Orang mengenal Raja Ampat itu tempat wisata yang indah... Salawati ini tidak terkenal seperti yang lainnya, kita harus punya nilai jual tersendiri.
Banyak informasi yang bisa digali dari pembicaraan... bagaimana dari cerita-cerita itu dibuat menjadi tindakan konkret yang menghasilkan.