Roni Caron, musisi dan seniman dari ISI Padang Panjang, menggagas Festival Legusa di Kabupaten Limapuluh Kota. Merasa gelisah bahwa selama ini dunia akademik seni hanya mengeksplo…
Bersama Roni Caron, musisi dan seniman di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.
Roni Caron, musisi dan seniman dari ISI Padang Panjang, menggagas Festival Legusa di Kabupaten Limapuluh Kota. Merasa gelisah bahwa selama ini dunia akademik seni hanya mengeksploitasi desa untuk riset lalu mementaskannya di kampus secara elitis, Roni memutuskan memulangkan kesenian kembali ke desa. Ia mengajak pemuda dan warga desa menjadi subjek sekaligus penyelenggara festival. Acara diselenggarakan secara gotong royong: ibu-ibu menyumbang pisang dan nasi, para pemuda mengelola acara. Uniknya, festival ini berdampak pada pembangunan infrastruktur. Jalan desa yang sebelumnya rusak dan titik-titik tanpa sinyal akhirnya diaspal dan dipasangi menara sinyal oleh pemerintah karena kebutuhan penyelenggaraan peristiwa budaya.
Secara teoritis, Roni Caron menggunakan kebudayaan sebagai alat negosiasi politik dan rekayasa sosial. Festival Legusa bukan sekadar panggung hiburan, melainkan ruang deliberatif bagi warga desa untuk mengartikulasikan eksistensi mereka kepada negara. Ketika warga berhasil menyelenggarakan acara yang masif, pemerintah daerah dipaksa turun dan melihat langsung ketimpangan infrastruktur desa tersebut. Ini metode yang sangat cerdas: kesenian berubah menjadi instrumen advokasi kebijakan publik. Roni menempatkan warga dari sekadar objek penikmat kesenian elitis menjadi subjek produsen kebudayaan. Kekuatan modal sosial berupa gotong royong ibu-ibu dan pemuda menjadi antitesis dari cara kerja pembangunan modern yang selalu berbasis proposal dan proyek anggaran.
Biasanya mahasiswa mencari materi seni ke kampung lalu dipentaskan di kampus. Kami berpikir, kenapa nggak dipulangkan kembali ke masyarakat?
Membuat peristiwa budaya di tengah masyarakat... masyarakat diposisikan tidak lagi sebagai objek, tapi sebagai subjek pelaku dan pengelola.
Saya memberdayakan anak-anak muda yang hobi gitar di pinggir jalan... saya ingin menantang mereka membuat gerakan untuk desa.
Ternyata yang kami buat ini adalah sebuah alat untuk memproduksi kebahagiaan masyarakat.
Kami menggelar pentas di jalan yang tidak ada aspal, tahu-tahu tahun depannya diaspal. Di Harau tadinya nggak ada sinyal, sekarang ada jaringan internet.
Kita hari ini butuh ruang bersama... ibu-ibu menyumbang pisang dan nasi, mereka lebur dengan sendirinya di festival ini.
Kita mendapat teman dari daerah lain dengan semangat yang sama... kita menamakan ini Festival Warga, nilai yang tumbuh dari warga itu yang dikembangkan.
Ini satu alternatif untuk kebosanan masyarakat terhadap fenomena sosial kita hari ini... muncul banyak festival yang basisnya desa-desa.