Borobudur Milik Siapa? Borobudur Untuk Siapa?

Episode ini membongkar paradoks pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur yang sering kali meminggirkan aktor utamanya: masyarakat lokal. Wacana yang dibangun me…

Episode ini membongkar paradoks pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur yang sering kali meminggirkan aktor utamanya: masyarakat lokal. Wacana yang dibangun menggugat logika pembangunan top-down yang mereduksi Borobudur sekadar sebagai tumpukan batu bersejarah atau komoditas pariwisata yang dieksploitasi untuk mendatangkan devisa. Di balik kemegahan fisik monumen tersebut, terdapat denyut nadi ekonomi, sosial, dan kebudayaan masyarakat agraris dan pengrajin yang hidup di sekitarnya. Pesan sentral dari diskursus ini adalah peringatan keras terhadap konservasi elitis. Upaya pelestarian sejarah tidak boleh berujung pada penggusuran kultural masyarakat setempat. Narasi ini secara tegas menolak posisi warga sekadar sebagai pelengkap penderita atau pekerja rendahan di tengah gegap gempita proyek Otorita. Masyarakat lokal harus diposisikan sebagai subjek perancang kebijakan. Transformasi pengetahuan harus dikembalikan ke akar rumput; masyarakat harus memiliki hak interpretasi dan pengelolaan atas ruang hidupnya sendiri. Jika pariwisata dikelola tanpa pelibatan partisipatoris yang adil, maka proyek tersebut hanya akan menguntungkan pemilik modal besar, sementara guyub rukun masyarakat desa akan tercabik-cabik oleh komersialisasi ruang.

Tonton episode lengkap di YouTube