Dari Bukit Sampah Jadi Bukit Wisata: Kreativitas Para Muda Dibalik Viralnya Bukit Porong

Bung Roni, sarjana pariwisata lulusan Bali, pulang ke kampung halamannya di Desa Coal, Kabupaten Manggarai Barat, sekitar tiga jam dari Labuan Bajo, karena terdampak pandemi pada…

Bersama Bung Roni, Ikatan Pemuda Kreatif di Desa Coal, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Bung Roni, sarjana pariwisata lulusan Bali, pulang ke kampung halamannya di Desa Coal, Kabupaten Manggarai Barat, sekitar tiga jam dari Labuan Bajo, karena terdampak pandemi pada 2020. Menyadari desa kelahirannya hanya dipandang sebelah mata di tengah hingar-bingar pariwisata super-prioritas Komodo, ia mengumpulkan ratusan anak muda penganggur dalam Ikatan Pemuda Kreatif. Mereka secara swadaya menyulap bukit yang dulunya tempat pembuangan sampah dan sarang keributan pemuda menjadi Bukit Porong, destinasi desa wisata alam dan budaya. Melalui Kelompok Sadar Wisata, Roni tidak menjual pemandangan semata, melainkan mengemasnya dalam lima elemen falsafah budaya Manggarai. Wisatawan diajak mengunjungi kebun kopi, meminum kopi lokal unggulan, dan menyaksikan tarian adat di halaman rumah. Bukit Porong meraih penghargaan nasional dan terkoneksi dengan sekolah internasional di Australia melalui pertukaran budaya virtual.

Gerakan Roni adalah contoh reklamasi ruang dan demokratisasi pariwisata berbasis komunitas. Di saat pengembangan Labuan Bajo sarat isu eksklusi agraria, perampasan tanah, dan pariwisata ekstraktif yang menguntungkan korporasi besar, Bukit Porong menawarkan antitesis: pariwisata yang dikelola, dimiliki, dan dinikmati langsung oleh warga desa. Roni menjalankan pariwisata bernarasi, yaitu memonetisasi narasi kebudayaan, di mana masa lalu, kopi, dan tarian tradisional Manggarai diubah menjadi aset tak ternilai bagi wisatawan asing. Menariknya, Roni menempatkan warga sebagai aktor utama, bukan sekadar penonton di pinggir jalan tol pariwisata. Negosiasi status lahan yang awalnya milik pribadi menjadi dikelola kelompok warga juga menunjukkan kematangan berdemokrasi di level desa. Bukit Porong membuktikan bahwa pariwisata bukan alat yang mencerabut manusia dari akar budayanya, melainkan medium pelestarian yang melahirkan kebanggaan dan kedaulatan ekonomi lokal.

Rincian bahasan

  1. Pengenalan Bung Roni dan Desa Coal, Manggarai Barat Saya mengambil studi pariwisata di Bali... pulang merespons pembangunan Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas.
  2. Menyulap bukit sampah menjadi Bukit Porong Kita manfaatkan bukit yang dulunya tempat pembuangan sampah... melibatkan anak muda tamatan SMA yang susah cari kerja akibat pandemi.
  3. Membentuk kelompok sadar wisata dan kelompok kerja Kita membentuk Kelompok Sadar Wisata yang punya Pokja homestay, kebersihan, keamanan, sampai seni budaya... sebagai wadah berdiskusi.
  4. Mengemas storynomic tourism berbasis budaya Kita mengedepankan destinasi dengan kekuatan cerita, living culture... atraksi wisata alam dan budaya.
  5. Filosofi Bukit Porong dan kopi harapan Kopintala Porong itu melihat, menonton... filosofinya harapan. Kami kembangkan Kopi Bintang (Kopintala) sebagai kopi dengan penuh harapan.
  6. Local champion harus berani praktik Lebih banyak anak muda pintar bicara tapi sulit praktek... harus ada local champion yang mengabdi dan berkomitmen berbuat sesuatu untuk kampungnya.
  7. Negosiasi lahan pribadi menjadi aset desa Lahan yang kami bangun itu milik pribadi tiga orang... ada pendekatan meyakinkan mereka bahwa lahan ini jadi investasi wisata.
  8. Wisata edukasi berbasis lima falsafah budaya Manggarai Paket wisata kami berdasarkan 5 falsafah budaya Manggarai... Mbaru Gendang, Natas, Compang, Uma, dan Wae.
  9. Pengalaman membawa wisatawan asing ke kebun Wisatawan Polandia datang ke sini untuk melihat proses tradisional kopi di kebun (Uma)... mereka merasa ini kopi terbaik.

Tonton episode lengkap di YouTube