Melanjutkan wacana Borobudur, episode ini membedah kecemasan struktural warga terhadap proyek raksasa Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Mas Santo, seorang organisator komunit…
Bersama Mas Santo, organisator komunitas di Kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Melanjutkan wacana Borobudur, episode ini membedah kecemasan struktural warga terhadap proyek raksasa Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Mas Santo, seorang organisator komunitas, mengartikulasikan ketakutan kolektif masyarakat: bahwa emas pembangunan fisik yang gemerlap di Borobudur berisiko menggusur masyarakat lokal ke pinggiran peradaban ekonomi. Ada jurang menganga antara mimpi besar konseptor di Jakarta dengan realitas sosiologis warga agraris di sekitar candi. Diskusi ini menyoroti bahwa pembangunan top-down tanpa pelibatan partisipatoris akan menciptakan ketidakadilan tata ruang dan mengancam kohesi sosial. Jika pariwisata hanya diukur dari logika akumulasi kapital, maka pemilik modal besarlah yang akan memonopoli keuntungan, sementara warga lokal hanya menjadi penonton yang teralienasi dari tanah kelahirannya. Sebagai kontra-narasi, warga mulai mengonsolidasikan diri melalui jaringan UMKM dan solidaritas sonjo yang mandiri. Episode ini adalah peringatan keras bagi negara: pembangunan pariwisata harus menjadikan masyarakat sebagai subjek perancang, bukan sekadar objek yang diberi janji manis, agar komersialisasi tidak menumbalkan kebudayaan dan martabat warga.
Kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN)... maunya seperti apa dan apakah cukup prospektif bagi pemberdayaan ekonomi sosial masyarakat?
Mau nggak mau kita dipaksa untuk mengikuti agenda-agenda berskala kawasan... kita harus saling bersinergi meskipun belum 100% sepaham.
Pariwisata hancur... ini sebuah catatan buat kita, kita harus memikirkan dari sisi lain untuk tetap hidup dan berdaya secara mandiri.
Kita mendapat musibah, tapi anugerahnya kita saling berinteraksi, gotong royong (sonjo)... kebersamaan itulah yang menjadikannya kuat.
Dari sisi bangunan fisik gumebyar... tapi jangan sampai kita hanya disodori mimpi dan angin surga tanpa pemberdayaan riil.
Orang akan berlomba untuk nilai ekonomi... yang dikhawatirkan, orang bermodal besar punya akses kapital gede, lalu masyarakat di bawah bisa meraih apa?
Jangan sampai guyub rukun warga itu pudar dan tercabik-cabik karena sebuah pembangunan kawasan... membangun pariwisata tapi budayanya bergeser.
Kita harus mengesampingkan langkah yang diambil hanya dari sisi ekonomi. Persoalan akan muncul kalau kita meninggalkan budaya kita.
Cita-cita besar tidak mungkin sukses kalau hanya top-down... minimal menjadikan rakyat sebagai subjek yang terus didengarkan suaranya.