Geliat Desa Terpencil yang Digerakkan oleh Perempuan: Cerita dari Humbang Hasundutan

Rela Mardiana Barasa dari Desa Ambobi Paranginan, Humbang Hasundutan, tidak tahan melihat ibu-ibu rumah tangga di desanya menganggur sambil menunggu panen sawah yang hanya dua kal…

Bersama Rela Mardiana Barasa, penggerak desa di Desa Ambobi Paranginan, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Rela Mardiana Barasa dari Desa Ambobi Paranginan, Humbang Hasundutan, tidak tahan melihat ibu-ibu rumah tangga di desanya menganggur sambil menunggu panen sawah yang hanya dua kali setahun. Melihat potensi buah salak yang melimpah namun tidak laku dan sering membusuk, ia mengorganisir mereka memproduksi dodol salak. Inisiatif ekonomi ini kemudian merambah jauh. Ibu Rela tidak hanya fokus pada perut, tapi juga otak. Ia mendatangkan relawan guru dari Jakarta untuk mengajari anak-anak desa bahasa Inggris dan musik secara gratis, agar mereka tidak kalah bersaing dengan anak-anak di Jawa. Kini ia memperluas kegiatannya pada kerajinan tangan bapak-bapak lansia dan produksi pewarna alami dari tanaman gambir untuk kain ulos.

Ibu Rela merepresentasikan kepemimpinan feminis akar rumput yang memandang pemberdayaan secara holistik, mencakup emansipasi ekonomi sekaligus pendidikan. Langkahnya memutus mata rantai pengangguran musiman yang sering menjadi biang kemiskinan dan utang di perdesaan. Transformasi komoditas mentah menjadi produk turunan yang awet adalah langkah strategis untuk keluar dari jebakan nilai tambah rendah pertanian subsisten. Selain itu, mendirikan pendidikan gratis merupakan kritik sosial yang keras terhadap ketimpangan kualitas sumber daya manusia antara desa dan kota, antara Jawa dan luar Jawa. Ibu Rela memahami bahwa kapital masa depan bukanlah semata tanah, melainkan kualitas kognitif anak-anak generasinya.

Rincian bahasan

  1. Potensi salak yang terbuang sia-sia Di kampung ini salak adalah penghasil utama tapi tidak laku dijual... saya berinisiatif, gimana caranya diolah biar laku.
  2. Menggerakkan ibu-ibu yang tidak bekerja Saya kumpulkan ibu-ibu yang tidak bekerja... daripada pinjam-pinjam, yuk kerja bantu saya bikin dodol salak.
  3. Inisiatif pendidikan bahasa Inggris gratis Di samping ekonomi, pendidikan kami jalankan juga. Saya cari guru dari Jakarta... supaya anak desa ini pintar, nggak kalah sama yang di kota.
  4. Memberdayakan lansia lewat kerajinan Bukan cuma ibu-ibu, bapak-bapak lansia saya kasih semangat bikin anyaman dan alat musik kecapi... saya yang tanggung jawab menjual ke sekolah.
  5. Tantangan, minimnya dukungan orang tua Kendalanya kadang orang tua kurang mendukung anaknya dibawa ke tempat les... padahal kita bantu kasih gratis, tapi SDM-nya kurang sadar.
  6. Target inovasi pewarna alami dari gambir Di sini banyak tanaman gambir dijual sangat murah... saya mau anak muda merangkul ini untuk diolah jadi pewarna alami kain ulos.
  7. Dukungan anak rantau untuk pendidikan Ada anak rantau yang sudah berhasil di Jakarta... kita komunikasi, dia yang bantu donasi untuk biaya pendidikan anak-anak di sini.
  8. Kemandirian desa tanpa bergantung bantuan Tujuan saya untuk menyejahterakan masyarakat. Jangan terpaku pada bantuan pemerintah... kalau kita bekerja dan berproduksi, semua masalah akan terlewati.

Tonton episode lengkap di YouTube