Candi Prambanan menarik jutaan wisatawan, namun desa-desa penyangganya acapkali hanya dilewati debu kendaraan. Mas Gandang, Kepala Desa Tamanmartani, menceritakan ikhtiar desanya…
Bersama Mas Gandang, Kepala Desa Tamanmartani di Desa Tamanmartani, Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta.
Candi Prambanan menarik jutaan wisatawan, namun desa-desa penyangganya acapkali hanya dilewati debu kendaraan. Mas Gandang, Kepala Desa Tamanmartani, menceritakan ikhtiar desanya menolak nasib sebagai penonton pasif. Melalui pemetaan partisipatif atas 22 dusun, desa ini merancang ekosistem wisatanya sendiri, mulai dari wisata sungai Tujuh Bulan, homestay tematik, hingga pusat kuliner dan kesenian lokal. Mereka membangun sekoci-sekoci ekonomi kecil di sekeliling kapal induk Candi Prambanan. Namun, inovasi ini menabrak dinding birokrasi dan egosektoral. Terdapat kritik tajam terhadap PT Taman Wisata Candi dan otoritas pusat yang kerap mengabaikan inisiatif organik dari bawah. Desa tidak mengemis dana CSR, melainkan menuntut kemitraan strategis, transfer pengetahuan, dan integrasi paket wisata agar limpahan ekonomi tidak menumpuk di pusat monumen saja. Episode ini menelanjangi kegagalan negara dalam mengelola kawasan secara holistik, sekaligus mendesak agar desa diposisikan sejajar sebagai mitra pengelola kawasan, bukan sekadar wilayah subordinat yang dilarang mendirikan bangunan tinggi demi estetika candi, namun warganya dibiarkan miskin.
Ini di Dusun Dalem, Tamanmartani... desa yang beririsan dengan Taman Wisata Candi Prambanan.
Awalnya cuma tempat buang sampah... kita sulap jadi wisata supaya sungai kembali bersih dan disadari pentingnya dikelola.
Desa saya masuk Kawasan Strategis Nasional, tidak boleh ada bangunan tinggi. Mau ndak mau, supaya warga tidak keluar, harus dapat penghasilan di sini.
Saya petakan mana yang punya wisata, mana homestay... kita kasih gamelan, pakaian kesenian, ada jathilan, wayang wong, pelukis banyak di sini.
Kawasan strategis, kompensasi kami apa? Harusnya dibina untuk menjadi penyangga... jangan cuma cari lahan disewa terus didiamin.
Kita itu jadi kayak sekoci kecil-kecil dari pulau besarnya Taman Wisata Prambanan... turunnya masyarakat sangat antusias.
BUMDes diajak kerjasama mengelola kawasan... saya berharap tidak harus uang yang keluar, tapi kepedulian ilmu.
Saya petakan 22 dusun itu keunggulannya masing-masing... ada khusus jamu, oleh-oleh, makanan, kesenian, homestay... saling melengkapi.
Kami jangan ditinggal, jadikan mitra. Berilah konsep apa yang mau diisi... jangan terlepas dari konsep besar yang dibuat di Jakarta.