Elsa, seorang sarjana pertanian muda, menceritakan perjuangannya bersama Mama Sorgum, Maria Loreta, di Flores Timur. Di tengah krisis iklim yang membuat padi dan jagung sering gag…
Bersama Elsa, sarjana pertanian, bersama Maria Loreta di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Elsa, seorang sarjana pertanian muda, menceritakan perjuangannya bersama Mama Sorgum, Maria Loreta, di Flores Timur. Di tengah krisis iklim yang membuat padi dan jagung sering gagal panen akibat lahan kering dan berbatu, Elsa menggerakkan petani untuk kembali menanam sorgum, tanaman pangan lokal yang sangat adaptif terhadap kekeringan. Perjuangannya tidak mudah, dari meyakinkan petani agar mau menanam sorgum, hingga mengubah kultur lidah warga agar mau mengonsumsinya, terutama untuk pencegahan gizi buruk pada anak. Kini, berawal dari dua hektar, lahan sorgum telah meluas hingga puluhan hektar, dan limbah batangnya pun dimanfaatkan untuk pakan ternak.
Kisah Elsa adalah manifestasi nyata dari dekolonisasi pangan dan perlawanan terhadap penyeragaman agraria. Kebijakan revolusi hijau di masa lalu menanamkan hegemoni bahwa beras adalah standar tunggal kemakmuran, menyingkirkan keanekaragaman pangan endemik Nusantara. Dengan merevitalisasi sorgum, Elsa melakukan perlawanan ganda: beradaptasi dengan perubahan iklim ekstrem sekaligus memerangi kemiskinan struktural dan gizi buruk. Gerakan ini membuktikan bahwa jawaban atas ancaman krisis pangan global sejatinya sudah tertanam kuat pada kearifan lokal. Keterlibatan Elsa sebagai intelektual muda organik yang memilih hidup di desa bersama petani menunjukkan bahwa sains dan tradisi bisa disintesiskan untuk menyelamatkan kedaulatan pangan lokal.
Saya Elizabeth... saya mengenal sorgum waktu SMA. Saya ikut bapak ke kebun bantu penyiangan sampai panen sorgum.
Kondisi lahannya itu berbatuan dan curah hujan sangat kurang. Petani sebelumnya gagal panen padi dan jagung karena iklim.
Kami sarankan 40% nya dikonsumsi untuk rumah tangga, 60% nya untuk dijual memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan.
Sorgum ini nilai gizinya bagus untuk pencegahan stunting dan perbaikan gizi buruk... kami buat bubur sorgum dengan sayur dan ikan.
Limbah sorgum kami manfaatkan... batang dan daunnya kami olah menjadi pakan ternak sapi dan kambing.
Kami tidak hanya datang memberi pelatihan, tetapi kami tinggal bersama masyarakat... kami ke kebun sama-sama, dari situ kami mengajak pelan-pelan.
Ancaman terbesar adalah hama burung... untuk mengatasi itu, kami sarankan kalau tanam sorgum harus satu hamparan luas 2-3 hektar sekaligus.
Jangan pernah gengsi untuk mengembangkan potensi pangan lokal yang ada di desa kita, ketimbang harus mengimpor dari luar.