Demokrasi pasca-otoritarianisme di Indonesia diuji oleh kegagalan sistemik dari partai politik itu sendiri. Episode ini menyoroti perdebatan tentang sistem pemilu, proporsional te…
Demokrasi pasca-otoritarianisme di Indonesia diuji oleh kegagalan sistemik dari partai politik itu sendiri. Episode ini menyoroti perdebatan tentang sistem pemilu, proporsional terbuka versus tertutup, sebagai gejala dari penyakit yang lebih dalam: partai politik telah kehilangan fungsi ideologisnya dan tereduksi menjadi sekadar agen penjual tiket bagi para politisi pragmatis. Keluhan mengenai politik biaya tinggi dan transaksionalitas bukanlah semata-mata kesalahan sistem pemilu terbuka, melainkan bukti bahwa partai gagal mendidik, mengikat kader, dan membangun basis konstituen yang loyal berdasarkan gagasan. Ketika partai gagal menjadi wadah konsolidasi aspirasi, pertarungan politik berubah menjadi pasar bebas kapital di mana siapa yang memiliki modal terbesar akan menang. Narasi kritis ini mendesak reformasi radikal di tubuh partai politik. Partai harus dipaksa turun dari menara gadingnya untuk mengakar kembali pada penderitaan dan persoalan keseharian rakyat. Pemilu tidak boleh hanya menjadi ritual sirkulasi elite; ia harus menjadi instrumen di mana pemilih bertransformasi dari sekadar lumbung suara menjadi warga negara aktif yang mengendalikan arah kekuasaan.