Menyelamatkan Pangan Lokal Melalui Sekolah Pagesangan

Sistem pendidikan formal mainstream dikritik tajam karena mencerabut anak-anak desa dari akar ekologi dan kebudayaannya. Mereka diajarkan teori-teori industrial yang tidak relevan…

Bersama Mbak Diah, pendiri Sekolah Pagesangan di Dusun Wintaos, Gunungkidul, DI Yogyakarta.

Sistem pendidikan formal mainstream dikritik tajam karena mencerabut anak-anak desa dari akar ekologi dan kebudayaannya. Mereka diajarkan teori-teori industrial yang tidak relevan, sementara realitas mereka adalah ladang, musim tanam, dan perjuangan pangan. Mbak Diah merespons keterasingan ini dengan mendirikan Sekolah Pagesangan di kawasan kering Dusun Wintaos, Gunungkidul. Sekolah ini lahir dari pergulatan pengorganisasian panjang, menolak bentuk formalitas lembaga, dan menempatkan kemandirian finansial sebagai prasyarat kebebasan ideologisnya. Sekolah ini mengadopsi pedagogi kritis yang membebaskan. Kurikulum tidak didikte dari atas, melainkan dirumuskan bersama anak-anak dan orang tua petani melalui pemetaan masalah sehari-hari. Ekologi, ketahanan pangan lokal seperti tiwul dan palawija, serta pengetahuan agraris leluhur menjadi materi utama pembelajaran. Anak-anak dan para ibu diposisikan sebagai subjek produsen pengetahuan, bukan wadah kosong yang dicekoki hafalan. Episode ini adalah penutup musim yang gemilang, mendemonstrasikan bahwa pendidikan sejati haruslah kontekstual, berorientasi pada pemecahan masalah ruang hidup terdekat, dan menjadi instrumen utama untuk mengembalikan martabat kebudayaan agraris yang selama ini diremehkan oleh rasionalitas modern.

Rincian bahasan

  1. Kegelisahan pada praktik pendidikan kritis Saya banyak baca buku pendidikan membebaskan seperti Freire... tapi saya nggak nemuin gambar aplikasinya, prakteknya gimana.
  2. Belajar pengorganisasian melalui isu kehutanan Saya bekerja di NGO isu hutan, itu kesempatan saya bermain ke desa... prinsip pengorganisasian saya dapatkan dari situ.
  3. Memilih daerah kritis Gunungkidul sebagai ruang mengabdi Saya mencari lokasi yang memang benar-benar membutuhkan... kondisi yang kritis, marginal, minim survival dalam kesulitan.
  4. Prinsip kemandirian, menolak ketergantungan LSM Saya tidak mau ini jadi LSM... sumber daya harus dimodali pelaku gerakan itu sendiri. Aku buka kerajinan (craft) supaya mandiri finansial.
  5. Memulai dari anak-anak tanpa mendekati elite Dalam pengorganisasian, saya tidak mau mendekati elit. Saya memulai dari anak-anak yang terpinggirkan, yang tidak pernah difasilitasi.
  6. Melibatkan ibu-ibu desa sebagai guru keterampilan Saya narik ibu-ibu, apa yang bisa dikontribusikan? Disepakati simbok ngajari tempe, ngajari tiwul... mereka merasa diakui dan takjub.
  7. Kritik pendidikan formal yang mencerabut budaya Pendidikan itu tercerabut dari kebudayaannya dan dekat dengan industri... anak-anak dijauhkan dari kehidupan sehari-hari (bertani).
  8. Mengintegrasikan pendidikan, ekologi, dan budaya Jangan pernah memisahkan pendidikan dengan kebudayaan (kehidupan sehari-hari). Kita punya paket belajar Sobo Tegal, Sobo Pawon.

Tonton episode lengkap di YouTube