Dimas Bagus Pratama meninggalkan pekerjaannya di perusahaan vendor rokok besar demi mendalami laku spiritual yang bermuara pada kecintaannya pada pertanian ekologis. Melihat ironi…
Bersama Dimas Bagus Pratama, petani ekologis.
Dimas Bagus Pratama meninggalkan pekerjaannya di perusahaan vendor rokok besar demi mendalami laku spiritual yang bermuara pada kecintaannya pada pertanian ekologis. Melihat ironi revolusi hijau yang sukses menciptakan swasembada masa lalu namun meninggalkan residu berupa tanah yang mati akibat overdosis pupuk kimia sintetis, Dimas bergerak melakukan detoksifikasi lahan. Ia mengajari petani memproses limbah industri dan rumah tangga organik, termasuk eceng gondok hingga kotoran ternak, menjadi pupuk kaya unsur hara dengan fermentasi cepat. Menariknya, ia mengajarkan manajemen hama secara ekologis, misalnya menghalau tikus dengan aroma amoniak tertentu alih-alih membunuhnya, agar rantai makanan tidak terputus.
Yang dilakukan Dimas adalah sebentuk bioremediasi bumi sekaligus kritik tajam terhadap paradigma agro-industri kapitalistik. Industrialisasi pertanian telah memperlakukan tanah semata sebagai mesin produksi biologis yang harus terus disuntik bahan kimia, yang pada akhirnya mematikan mikroorganisme tanah dan menyebabkan kemandekan hasil panen. Pendekatan Dimas mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari jaringan ekologis. Dengan menolak membeli pupuk kimia yang mahal dan memproduksi pupuk sendiri dari sampah, Dimas pada dasarnya menuntun petani menuju daulat input pertanian, melepaskan mereka dari ketergantungan abadi pada korporasi agrokimia global. Ini wujud pertahanan negara yang paling hakiki: mempertahankan tanah secara harfiah.
Saya memberanikan diri keluar dari pekerjaan vendor perusahaan rokok... belajar dari Mataram kuno tentang sebab-akibat hidup.
Revolusi hijau bikin kita swasembada, tapi dampaknya sekarang tanah kita rusak, unsur haranya habis... kita makan perubahannya tapi tak pernah diganti.
Produktivitas menurun, baku mutu residu di Indonesia sangat jauh di bawah Jepang... ini yang paling miris saat generasi penerus gagal karena unsur hara habis.
Sampah organik itu dihancurkan partikelnya jadi kecil biar mudah berhomogen... dicampur pupuk kompos, difermentasi, semudah itu.
Harga pupuk naik semua dari tahun 90-an. Dengan cara saya, biaya operasional dan HPP rendah... sampah yang tak berguna jadi pupuk yang mereka cari.
Pemuda nggak punya kafe masih bisa hidup, nggak ada pegawai bank masih bisa hidup. Tapi bayangin kalau nggak ada petani, mau makan apa?
Struktur persawahan diperluas tapi habitat rantai makanan hilang, sudah tidak ada ular di sawah. Tikus terlalu banyak karena dia insting cari makan.
Teman-teman muda bertani itu nggak harus mencangkul... ada teknologi tepat guna. Ayo sama-sama mencari teknologi, kalau perlu pakai drone.