Episode ini membuka wacana dengan membenturkan dua realitas yang ironis: gegap gempita representasi elit politik melalui baliho-baliho raksasa yang menutupi ruang publik, dengan r…
Bersama Redaksi Bincang Pinggiran di Yogyakarta.
Episode ini membuka wacana dengan membenturkan dua realitas yang ironis: gegap gempita representasi elit politik melalui baliho-baliho raksasa yang menutupi ruang publik, dengan realitas keseharian rakyat yang sedang berdarah-darah menghadapi pandemi. Diskursus yang dibangun menyoroti bagaimana ruang politik formal telah menjadi kumuh oleh narasi pencitraan yang elitis, berjarak, dan berorientasi semata pada kontestasi kekuasaan elektoral yang masih jauh. Di sisi lain, episode ini menggugat definisi usang tentang demokrasi. Demokrasi sesungguhnya bukan sekadar ritual pemilu atau negosiasi di hotel bintang lima, melainkan percakapan otentik yang lahir dari angkringan, gardu ronda, dan komunitas pinggiran. Di ruang-ruang informal inilah rakyat merumuskan masalahnya sendiri. Bincang Pinggiran hadir sebagai sanggar bagi suara-suara pinggiran ini, dengan misi menginfiltrasi dan mempengaruhi kebijakan strategis di tingkat pusat. Episode ini menjadi manifesto bahwa rakyat kelas bawah bukanlah objek pasif atau kelompok yang tidak memiliki literasi politik. Mereka seringkali diam bukan karena tidak memiliki gagasan, melainkan karena direpresi oleh struktur oligarki yang memonopoli ruang publik. Oleh karena itu, percakapan di angkringan harus diangkat menjadi instrumen negosiasi politik yang nyata untuk membangun kualitas demokrasi yang lebih substantif dan inklusif.
Apa hubungannya sih sebetulnya baliho yang tadi kalian melihat itu dengan nasib rakyat... dengan persoalan korban pandemi?
Ngomong demokrasi itu tidak sekedar bicara kontestasi antar elit yang ditandai oleh baliho... politik itu ya cara rakyat berpolitik.
Sepanjang 2021 itu kita memiliki banyak peristiwa penting... soal kekerasan, soal ketegangan identitas yang mewarnai di dalam peristiwa politik.
Rakyat bilang 'kami ini nggak butuh demokrasi yang penting bisa makan'... tapi sebetulnya kebijakan makan itu ada hubungannya dengan proses politik.
Suara yang relatif otentik adalah mendengarkan cerita-cerita yang lahir dari pergulatan pemikiran mereka... di warung-warung kecil.
Mereka depresif dan dikondisikan untuk tidak bicara... kalau Orde Baru direpresi lewat senjata, sekarang mungkin lewat oligarki.
Saya berharap forum obrolan seperti ini akan mempengaruhi kebijakan... agar kita punya pengaruh bagi peningkatan kualitas demokrasi.